Otoinfo.id – Teknologi smart charging mobil listrik berpotensi menjadi solusi penghematan besar dalam pengembangan infrastruktur kendaraan listrik. Sebuah studi di Eropa menunjukkan bahwa pengaturan pengisian daya secara cerdas dapat memangkas kebutuhan investasi jaringan listrik hingga sekitar 40%.
Temuan ini menarik. Sebab, selama ini pembahasan mobil listrik lebih sering berkutat pada kapasitas baterai, jarak tempuh, dan kecepatan pengisian daya. Padahal, persoalan besarnya justru bisa muncul dari jaringan listrik yang harus melayani jutaan kendaraan secara bersamaan.
Laporan Reuters pada 3 November 2026 mengungkapkan bahwa penelitian Siemens memperkirakan kebutuhan investasi jaringan distribusi listrik di 64 kota Eropa mencapai 24,7 miliar euro hingga 2030.
Namun, penerapan smart charging berpotensi menghemat sekitar 10,6 miliar euro. Angka yang jelas bukan recehan!
Smart Charging Mobil Listrik, Apa Rahasia Penghematannya?
Smart charging merupakan teknologi yang memungkinkan proses pengisian baterai kendaraan listrik disesuaikan dengan kondisi jaringan dan kebutuhan energi.
Pengisian Daya Saat Beban Listrik Rendah
Salah satu pendekatannya adalah mengalihkan pengisian daya ke waktu ketika konsumsi listrik relatif rendah, misalnya pada malam hari.
Melalui sistem pengukuran dan pengendalian yang cerdas, beban pengisian kendaraan dapat dikelola agar tidak menumpuk pada jam sibuk.
Hasilnya, kapasitas jaringan listrik yang sudah tersedia bisa dimanfaatkan lebih optimal.
Studi Siemens memperkirakan kebutuhan investasi jaringan dapat turun dari 24,7 miliar euro menjadi sekitar 14,1 miliar euro jika pengelolaan beban kendaraan listrik diterapkan secara efektif.
Namun, penghematan tersebut merupakan proyeksi investasi infrastruktur, bukan berarti tarif listrik konsumen otomatis turun 40%.
Pertumbuhan Mobil Listrik Menguji Infrastruktur Eropa
Penelitian tersebut memperkirakan jumlah kendaraan listrik di 64 kota yang dianalisis meningkat rata-rata 3,8 kali lipat hingga 2030.
Jaringan Listrik Rumah Tangga Jadi Perhatian
Sebagian besar kebutuhan penguatan infrastruktur justru berada pada jaringan distribusi tegangan rendah.
Pasalnya, pengisian kendaraan listrik di rumah dan tempat kerja diperkirakan menjadi sumber kebutuhan daya yang semakin besar.
Jerman termasuk negara dengan kebutuhan investasi tertinggi, disusul Norwegia, Belgia, dan Belanda.
Artinya, persoalan kendaraan listrik bukan sekadar memperbanyak stasiun pengisian, melainkan memastikan jaringan mampu mengimbangi pertumbuhan penggunanya.
Indonesia Bisa Belajar dari Smart Charging Eropa?
Bagi Indonesia, temuan ini memberikan pelajaran penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik.
Pemerintah, penyedia listrik, dan produsen kendaraan perlu mempertimbangkan pengaturan waktu pengisian, kesiapan jaringan distribusi, serta insentif penggunaan listrik di luar jam sibuk.
Namun, penerapan teknologi tersebut tetap membutuhkan kajian sesuai kondisi infrastruktur dan perilaku konsumen Indonesia.
Satu hal yang patut dicermati, membangun ekosistem mobil listrik bukan perlombaan memasang charger sebanyak-banyaknya.
Sebab, charger boleh semakin pintar. Tetapi kalau pengelolaan jaringan listrik tertinggal, biaya pengembangannya tetap bisa bikin pusing kepala.
