OTOINFO.ID – Persaingan teknologi baterai mobil listrik di China semakin panas. Belum selesai industri otomotif beradu harga, kini produsen baterai mulai perang kepadatan energi.
Sunwoda, melalui anak usahanya Sunwoda Electric Vehicle Battery (SEVB), mengembangkan baterai solid-state dengan kepadatan energi yang dilaporkan mencapai 400 Wh/kg.
Menariknya, perusahaan tersebut telah membawa teknologi elektrolit komposit polimer ke tahap evaluasi bersama produsen otomotif.
Sementara itu, raksasa baterai CATL terus mengembangkan teknologi solid-state berbasis sulfida dengan target produksi skala kecil pada 2027.
Sunwoda Punya Baterai 400 Wh/kg, Apa Istimewanya?
Berdasarkan perkembangan yang dilaporkan pada 2 November 2026, Sunwoda mengembangkan sel baterai Xin·Bixiao berkapasitas 20 Ah.
Kepadatan energinya diklaim mencapai 400 Wh/kg dengan daya tahan lebih dari 1.200 siklus pengisian dan pengosongan.
Diklaim Tahan Pengujian Suhu 200 Derajat Celsius
Sunwoda juga melaporkan keberhasilan pengujian termal pada suhu 200 derajat Celsius.
Teknologi ini menggunakan membran komposit polimer setebal 12 mikrometer dan dirancang beroperasi dengan tekanan eksternal di bawah 1 MPa.
Namun, hasil pengujian tersebut masih berada pada tingkat sel baterai. Belum membuktikan performa serupa ketika dipasang dalam satu paket baterai kendaraan.
Mobil Listrik Bisa Menempuh 800 Kilometer?
Kepadatan energi tinggi membuka peluang meningkatkan kapasitas baterai tanpa harus memperbesar bobot secara proporsional.
Sebagai ilustrasi, kendaraan listrik dengan baterai 55 kWh dan jarak tempuh 550 kilometer berdasarkan standar CLTC secara teoritis bisa mencapai 800 kilometer apabila kapasitas baterainya meningkat menjadi 80 kWh, dengan asumsi efisiensi kendaraan tetap.
Tetapi angka tersebut bukan hasil pengujian mobil listrik Sunwoda.
Jadi, jangan buru-buru membayangkan perjalanan Jakarta–Surabaya tanpa mampir SPKLU. Teknologinya masih harus membuktikan diri di jalan raya!
CATL Siapkan Produksi 2027, Siapa Lebih Unggul?
Perusahaan tersebut telah mengembangkan sampel baterai solid-state 20 Ah dan menargetkan kepadatan energi sekitar 500 Wh/kg.
Produksi Massal Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Meski CATL menargetkan produksi terbatas pada 2027, pengembangan menuju manufaktur skala besar masih direncanakan sekitar 2030.
Persoalannya bukan semata-mata siapa memiliki angka Wh/kg paling tinggi.
Ketahanan baterai, keselamatan, konsistensi produksi, hingga harga material tetap menentukan keberhasilan komersialisasi.
Sunwoda sendiri masih harus membuktikan bahwa evaluasi bersama produsen otomotif dapat berlanjut menuju produksi kendaraan.
Indonesia Harus Mulai Membaca Arah Teknologi Baterai
Perkembangan ini menjadi sinyal penting bagi industri kendaraan listrik Indonesia.
Investasi baterai berbasis lithium dan nikel tetap relevan, tetapi perubahan teknologi penyimpanan energi perlu terus dicermati.
Catatan OTOINFO: Dalam perang baterai, angka kepadatan energi memang mudah dijadikan bahan promosi.
Namun, konsumen tidak membeli angka Wh/kg. Mereka membeli kendaraan yang aman, tahan lama, terjangkau, dan benar-benar tersedia di pasar.
Sunwoda dan CATL boleh saling unjuk teknologi. Tetapi sebelum baterainya diproduksi massal, pertandingan sesungguhnya belum dimulai.
Jangan sampai baterainya sudah solid-state, tetapi kepastian harga dan produksinya masih sebatas coming soon!
