Otoinfo.id – Samaro Kaligis gagal ke Valencia pada MotoMini World Final 2026. Namun, kisah paling menyentuh justru muncul setelah balapan terakhir MotoMini Indonesia 2026 berakhir. Pembalap muda bernomor 77 asuhan Rafid Poppy Sugiarto itu menangis. Ia kemudian meminta maaf kepada ibunya, Sazidah Sugiyanti atau Mama Yanti, karena belum mampu mewujudkan harapan mereka.
Mama Yanti tentu kecewa. Namun, ia memilih menguatkan Samaro. Baginya, perjuangan sang anak jauh lebih berarti daripada sekadar posisi klasemen.
Samaro Kaligis Gagal ke Valencia Setelah Perjuangan Panjang
Samaro sebenarnya mengawali musim dengan hasil menjanjikan. Pada dua putaran awal di Sirkuit Boyolali, ia mencatat empat kali runner-up kelas OHVALE GP-0 160cc. Hasil tersebut memberinya 80 poin. Sementara itu, Satria Arfanur Putradi baru mengumpulkan 55 poin.

Samaro unggul 25 poin! Namun, perjalanan berikutnya tidak berjalan mulus. Menurut Mama Yanti, masalah mesin mengganggu performa Samaro pada putaran ketiga dan keempat. Samaro gagal meraih poin pada race kedua putaran ketiga. Selanjutnya, dua finis keempat pada putaran keempat hanya menghasilkan 26 poin. Akibatnya, Satria berbalik unggul 15 poin menjelang putaran terakhir.
Kemenangan yang Sempat Menghidupkan Harapan
“Seri 3 dan 4 nggak optimal, engine alami masalah. Masuk seri 5, mekanik sudah mempersiapkan sektor engine maksimal,” ungkap Mama Yanti kepada OTOINFO. Samaro kemudian membuktikan perjuangannya. Ia memenangkan race pertama putaran kelima dan memangkas selisih dengan Satria menjadi satu poin.
Harapan menuju Valencia kembali terbuka! Sayangnya, race terakhir menghadirkan hasil berbeda. Satria menang, sedangkan Samaro finis ketiga. Klasemen akhir menempatkan Muhammad Ali Imammudin sebagai juara dengan 200 poin. Satria menyusul dengan 177 poin, sementara Samaro menempati posisi ketiga dengan 167 poin. Ali dan Satria pun mengamankan dua tempat untuk mewakili Indonesia.
Mama Yanti: Perjuangan Samaro Sudah Luar Biasa
Di balik hasil tersebut, Mama Yanti menyimpan cerita yang tidak tercatat dalam klasemen. Ia mengenang bagaimana Samaro pernah mendorong motornya demi mencapai garis finis. Karena itu, Mama Yanti memahami betapa keras perjuangan anaknya sepanjang musim.

Ketika Samaro menangis dan meminta maaf setelah balapan terakhir, sang ibu tidak menambah beban kekecewaannya. Ia justru meyakinkan Samaro bahwa perjuangannya sudah luar biasa. “Semoga kesedihan ini tak boleh berlarut, harus kembali bangkit dan semangat menghadapi program balap ke depan, kesempatan masih terbuka lebar,” tutur Mama Yanti.
Mimpi Valencia Belum Usai
Samaro Kaligis gagal ke Valencia tahun ini. Namun, hasil tersebut tidak menghapus perjuangannya. Ia telah belajar menghadapi masalah teknis, mengejar ketertinggalan, hingga menerima hasil yang tidak sesuai harapan.
Sementara itu, Ali dan Satria layak mendapat apresiasi atas keberhasilan mereka. Bagi Samaro, perjalanan masih panjang. Kesempatan berikutnya tetap terbuka.
Sebab, podium hanya menyediakan tiga tempat. Namun, dalam hati seorang ibu, anak yang berjuang sepenuh hati selalu punya tempat paling tinggi.
