OTOINFO.ID – Agung Nugroho kembali memimpin Ikatan Motor Indonesia (IMI) Riau periode 2026–2030. Ketua Umum IMI Pusat, Moreno Soeprapto, resmi melantiknya di Hotel The Premiere, Pekanbaru, Selasa (3/11/2026) malam.
Menariknya, ini bukan periode pertama, kedua, atau ketiga. Agung memasuki periode keempat memimpin IMI Riau. Artinya, kepercayaan organisasi terhadap sosok yang juga menjabat Wali Kota Pekanbaru tersebut memang panjang.
Namun, ada satu hal yang cukup menyita perhatian. Kepengurusan IMI Riau kali ini dihuni 110 orang. Jumlah yang besar untuk sebuah organisasi olahraga otomotif tingkat provinsi.
Pertanyaannya sederhana: apakah banyaknya pengurus akan berbanding lurus dengan prestasi pembalap?
Moreno Soeprapto Lantik 110 Pengurus IMI Riau
Pelantikan Agung Nugroho sebagai Ketua IMI Riau 2026–2030 berlangsung bersamaan dengan rangkaian Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru.
Dalam menjalankan organisasi, Agung didampingi Hendri sebagai Ketua Harian, Andry Saputra sebagai Sekretaris, serta Mihariandi sebagai Bendahara.
Struktur kepengurusan juga mencakup enam ketua bidang dan 43 biro, dengan total personalia mencapai 110 orang.
Secara organisasi, komposisi tersebut menunjukkan besarnya sumber daya yang disiapkan IMI Riau.
Namun, organisasi otomotif tentu bukan sekadar urusan struktur dan pembagian jabatan. Pembalap membutuhkan kompetisi, mekanik membutuhkan ruang berkembang, sementara penyelenggara membutuhkan dukungan regulasi dan fasilitas.
Periode Keempat, Pembinaan Pembalap Jadi Ujian
Agung Nugroho bukan figur asing di dunia balap. Sebelum terjun ke politik, ia dikenal sebagai pembalap nasional dengan nama Agung Kencana.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk memahami kebutuhan olahraga otomotif dari dalam paddock, bukan hanya dari balik meja rapat.
Apalagi, Moreno Soeprapto menekankan pentingnya pembinaan atlet sejak usia dini melalui kompetisi berjenjang, baik roda dua maupun roda empat.
Di sinilah tantangan IMI Riau sebenarnya.
Dengan pengalaman empat periode, publik otomotif tentu berhak berharap lebih dari sekadar bertambahnya jumlah event.
IMI Riau Ditantang Melahirkan Prestasi Nyata
Agung juga menargetkan lebih banyak event nasional hadir di Pekanbaru. Selain mendukung olahraga otomotif, kegiatan tersebut diharapkan menggerakkan pariwisata dan perekonomian daerah.
Target ini menarik. Namun, keberhasilannya perlu diukur melalui indikator yang jelas.
Berapa pembalap muda yang berhasil dibina? Seberapa konsisten kalender kejuaraan berjalan? Bagaimana peningkatan kualitas keselamatan dan fasilitas balap?
Pertanyaan tersebut penting karena kemajuan otomotif tidak cukup diukur dari meriahnya seremoni pelantikan.
Dengan 110 pengurus dan pengalaman kepemimpinan yang panjang, IMI Riau memiliki modal organisasi yang besar.
Kini tinggal pembuktiannya.
Sebab, dalam dunia balap, jumlah kru di paddock boleh banyak. Tetapi ketika lampu start padam, hasil di lintasan tetap menjadi penentu.
