
Otoinfo – Meraih prestasi sebagai Juara Beginner (MP4) region Jawa 2026 tentu bukan hanya soal keberanian pembalap saat memacu motor di lintasan. Di balik performa Farel Putra Zaidane, terdapat proses pengembangan Yamaha MX King yang melibatkan penyesuaian karakter mesin, pemilihan rasio transmisi hingga penyelarasan tenaga dengan kebutuhan pembalap.
- Torsi dan Tenaga, Dua Hal Berbeda yang Saling Berkaitan
- Tenaga Progresif, Menyesuaikan Karakter Farel
- Membaca Kurva Tenaga: Masih Mengisi hingga Putaran Atas
- Peran Noken As dalam Membentuk Karakter Mesin
- Transmisi 6-Speed, Rasio Gir Disesuaikan dengan Mesin
- Mengapa Jarak Rasio Antargigi Penting?
- Final Gear 14/48 dan Karakter Akselerasi
- Dua Dyno, Dua Hasil Pengukuran
- Racikan Mesin, Transmisi dan Pembalap dalam Satu Paket
Menariknya, sosok yang meracik motor tersebut adalah Taufik TMS, ayah sekaligus mekanik Farel. Pendekatan yang digunakan bukan sekadar mengejar tenaga maksimum, melainkan membangun karakter mesin yang progresif agar lebih mudah dikendalikan oleh pembalap beginner.
Baca Juga : Makin Berprogress, Catatan Gemilang Farel Bintang di Final Motoprix 2026 Region B

Dari hasil pengujian dyno di Pekajaman, MX King Farel mencatat tenaga 27,1 HP. Sementara pengujian di Mototech menghasilkan 25,7 HP yang dikonfirmasi sebagai tenaga roda. Kedua pengujian dilakukan pada mesin yang sama, tetapi menggunakan perangkat dyno berbeda.
Laporan Mototech mencatat tenaga roda maksimum 25,7 HP pada 11.392 rpm dan torsi puncak 17,48 Nm pada 8.161 rpm. Perbedaan angka dari kedua tempat pengujian ini menjadi salah satu hal menarik untuk memahami bagaimana hasil dyno perlu dibaca secara cermat.
Torsi dan Tenaga, Dua Hal Berbeda yang Saling Berkaitan
Dalam mesin balap, tenaga dan torsi memiliki hubungan erat, tetapi keduanya bukan parameter yang sama. Torsi menggambarkan kemampuan mesin menghasilkan gaya putar, sedangkan tenaga merupakan seberapa cepat mesin menghasilkan kerja.

Sederhananya, torsi berperan dalam menghasilkan dorongan, sementara tenaga menggambarkan kemampuan mesin mempertahankan kerja tersebut pada putaran tertentu.
Baca Juga : Farel Bintang Kejar Ritme Terbaik di Mijen, Final Gir 14-48 Jadi Andalan, Ini Analisanya!
Pada hasil dyno Mototech, torsi maksimum MX King Farel sebesar 17,48 Nm tercapai pada 8.161 rpm. Sementara tenaga maksimum 25,7 HP baru dicapai pada 11.392 rpm.
Perbedaan putaran ini menunjukkan bahwa mesin masih mampu meningkatkan tenaga meskipun torsi sudah melewati titik puncaknya. Ketika putaran mesin bertambah, penurunan torsi yang terjadi belum cukup besar untuk menghentikan peningkatan tenaga. Tenaga kemudian mencapai puncak ketika kombinasi antara torsi dan putaran mesin menghasilkan keluaran maksimum.
Hal ini penting karena pembalap tidak selalu membutuhkan torsi puncak pada setiap kondisi lintasan. Mesin juga perlu memiliki rentang putaran yang dapat digunakan secara efektif ketika motor berakselerasi dan saat pembalap berpindah gigi.
Tenaga Progresif, Menyesuaikan Karakter Farel
Taufik TMS menjelaskan bahwa karakter mesin MX King Farel disesuaikan dengan kebutuhan pembalap. Tenaga bawah dibuat terasa mengayun, sementara putaran menengah hingga atas tetap memiliki dorongan.
Istilah tenaga dibuat seperti “semut” yang disampaikan mekanik menggambarkan filosofi tenaga yang keluar secara bertahap, bukan langsung menyentak. Karakter ini menjadi salah satu pertimbangan untuk membantu Farel mengontrol bukaan gas, terutama saat keluar dari tikungan.

Pada motor balap, lonjakan tenaga yang terlalu mendadak bisa membuat pembalap kesulitan menjaga traksi roda belakang. Saat ban kehilangan cengkeraman, tenaga mesin tidak seluruhnya berubah menjadi percepatan kendaraan. Karena itu, karakter respons gas dan kemampuan ban menyalurkan tenaga menjadi bagian penting dari performa.
Untuk pembalap beginner, respons yang mudah diprediksi dapat membantu membangun kepercayaan diri dalam mengatur akselerasi. Meski demikian, efektivitas setting tersebut tetap perlu dinilai melalui evaluasi pembalap dan catatan waktu di lintasan, bukan hanya angka dyno.
Membaca Kurva Tenaga: Masih Mengisi hingga Putaran Atas
Data Mototech memperlihatkan bahwa tenaga mesin meningkat dari 11,8 HP pada 6.500 rpm menjadi 25,7 HP pada 11.392 rpm. Pada rentang tersebut, torsi naik terlebih dahulu hingga puncaknya di 8.161 rpm, kemudian mulai berkurang secara bertahap.

Di sekitar 10.000 rpm, tenaga telah mencapai 24,1 HP. Artinya, mesin masih memiliki peningkatan tenaga setelah melewati puncak torsi. Karakter seperti ini membuat rentang putaran mesin menjadi bagian penting dalam menentukan strategi perpindahan gigi.
Baca Juga : Debut Internasional di Sepang, Fiandra Reja dan Firza Angkasa Bawa Pulang Pengalaman Berharga
Mekanik juga menyebut tenaga kuat mulai terasa sekitar 7.750 rpm dan mulai mengalami penurunan ketika putaran mendekati 12.000 rpm. Keterangan tersebut memberikan gambaran mengenai rentang kerja yang dirasakan saat motor digunakan.
Namun, angka tenaga maksimum tidak selalu menjadi titik perpindahan gigi terbaik. Penentuan titik shifting juga dipengaruhi oleh penurunan RPM setelah perpindahan, rasio gigi berikutnya, karakter lintasan dan kemampuan pembalap menjaga motor tetap berada di area tenaga efektif.
Peran Noken As dalam Membentuk Karakter Mesin
Selain pengaturan sistem bahan bakar dan transmisi, noken as merupakan komponen yang berpengaruh besar terhadap karakter mesin empat langkah. Komponen ini mengatur waktu pembukaan dan penutupan klep masuk serta klep buang.

Taufik TMS menyampaikan data noken as berupa durasi 60/30, lift sekitar 8,9 mm dan beberapa angka lain terkait overlap serta LSA. Karena notasi dan satuan pada sebagian data tersebut masih perlu dipastikan, angka spesifiknya belum bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan karakter noken as secara pasti.
Secara teknis, durasi menentukan seberapa lama klep berada dalam kondisi terbuka, sementara lift menunjukkan seberapa jauh klep terangkat dari dudukannya. Overlap merupakan periode di sekitar pergantian langkah buang ke langkah isap ketika klep masuk dan buang sama-sama terbuka.
Baca Juga : Spesial Support Bupati Oku Timur, Farrel PZ Kunci Gelar Beginner Region B Kejurnas Motoprix 2026
Ketiga aspek ini saling berkaitan. Perubahan durasi, lift, overlap dan posisi noken as dapat memengaruhi aliran campuran udara-bahan bakar ke ruang bakar, pembuangan gas sisa serta karakter tenaga pada berbagai putaran mesin.
Noken as dengan spesifikasi berbeda dapat menghasilkan karakter pengisian silinder yang berbeda pula. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kombinasi komponen mesin lainnya, termasuk bentuk porting, kompresi, sistem bahan bakar dan knalpot.
Transmisi 6-Speed, Rasio Gir Disesuaikan dengan Mesin
Salah satu bagian menarik dari MX King Farel adalah penggunaan transmisi enam percepatan dengan final gear 14/48. Taufik TMS menjelaskan bahwa rasio gir disesuaikan dengan karakter mesin dan kebutuhan penggunaan di lintasan.
Konfigurasi rasio gigi yang digunakan adalah:
- Gigi 1: 13/33
- Gigi 2: 16/29
- Gigi 3: 20/28
- Gigi 4: 20/24
- Gigi 5: 22/24
- Gigi 6: 22/22
- Final gear: 14/48
Rasio transmisi merupakan salah satu cara untuk mengatur bagaimana putaran dan torsi mesin diteruskan ke roda. Jika rasio reduksi semakin besar, penggandaan torsi pada roda juga semakin besar, tetapi kecepatan roda pada RPM mesin yang sama menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, rasio yang lebih kecil mengurangi penggandaan torsi dan memungkinkan kecepatan roda lebih tinggi pada putaran mesin yang sama.
Baca Juga : Arkana The Champion! Gaspol di Race 2, Gelar Rookie Region B Motoprix 2026 Jadi Miliknya
Berdasarkan jumlah gigi yang diberikan, jika pasangan angka menunjukkan gigi penggerak dan gigi yang digerakkan, rasio reduksi internal gigi pertama sekitar 2,54:1, kemudian berangsur menjadi 1:1 pada gigi keenam. Final gear 14/48 memiliki rasio reduksi sekitar 3,43:1.
Kombinasi rasio internal dan final gear inilah yang menentukan hubungan antara putaran mesin dan putaran roda pada setiap percepatan.
Mengapa Jarak Rasio Antargigi Penting?
Saat pembalap berpindah gigi, putaran mesin akan turun. Besarnya penurunan RPM dipengaruhi oleh perbandingan rasio gigi yang ditinggalkan dengan rasio gigi berikutnya.
Pada konfigurasi MX King Farel, jarak rasio antara gigi pertama dan kedua relatif besar dibandingkan beberapa perpindahan gigi selanjutnya. Jika perpindahan dilakukan pada RPM yang sama, penurunan putaran mesin dari gigi pertama ke kedua juga lebih besar.
Baca Juga : Black Drag Race 2026 Sentul: Iqbal Bole Pimpin Standing Point Juara Umum Diesel!
Sebagai ilustrasi, dengan asumsi rasio yang dicantumkan merupakan reduksi gigi, perpindahan dari gigi pertama ke kedua pada 11.000 rpm akan membuat putaran mesin turun menjadi sekitar 7.850 rpm. Dari gigi kedua ke ketiga, putaran turun menjadi sekitar 8.490 rpm jika perpindahan dilakukan pada 11.000 rpm.
Perhitungan ini merupakan simulasi berdasarkan perbandingan rasio, bukan data RPM aktual Farel di lintasan. Namun, contoh tersebut menunjukkan mengapa pemilihan rasio harus memperhatikan karakter tenaga mesin.
Jika RPM setelah shifting turun terlalu jauh, mesin mungkin berada di luar rentang tenaga yang dibutuhkan. Sebaliknya, rasio yang terlalu rapat dapat membuat perpindahan gigi lebih sering dilakukan dan mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan kecepatan di lintasan.
Dengan transmisi enam percepatan, mekanik memiliki lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan rentang kerja mesin terhadap kondisi lintasan. Penentuan kombinasi yang tepat memerlukan data kecepatan, RPM, diameter ban dan titik perpindahan gigi yang digunakan pembalap.
Final Gear 14/48 dan Karakter Akselerasi
Final gear 14/48 memiliki perbandingan reduksi sekitar 3,43:1. Artinya, putaran mesin akan direduksi melalui transmisi dan final gear sebelum diteruskan ke roda belakang.
Penggunaan gir belakang dengan jumlah gigi lebih banyak dibandingkan gir depan menghasilkan penggandaan torsi yang lebih besar di roda, dengan konsekuensi kecepatan roda pada RPM mesin yang sama menjadi lebih rendah.

Bagi mekanik, pemilihan final gear perlu mempertimbangkan kombinasi akselerasi, panjang lintasan lurus, jumlah tikungan dan rentang tenaga mesin. Di lintasan dengan banyak tikungan lambat, kebutuhan akselerasi keluar tikungan dapat menjadi pertimbangan. Sementara pada lintasan yang memiliki trek lurus panjang, kemampuan motor mempertahankan kecepatan juga perlu diperhitungkan.
Dalam konteks Farel, Taufik TMS menyebut pemilihan gir disesuaikan dengan karakter mesin. Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari upaya membuat respons motor sesuai dengan kebutuhan pembalap di Sirkuit Mijen.
Dua Dyno, Dua Hasil Pengukuran
Dari sisi pembacaan data, perbedaan hasil pengujian di Pekajaman dan Mototech juga menarik untuk dipahami. Pekajaman mencatat 27,1 HP, sedangkan Mototech mencatat 25,7 HP sebagai tenaga roda.
Karena keduanya menggunakan mesin yang sama, angka tersebut tidak bisa langsung dibandingkan sebagai kenaikan atau penurunan performa mesin. Perangkat dyno dapat menggunakan metode pengukuran dan koreksi yang berbeda, sementara kondisi lingkungan serta prosedur pengujian juga dapat memengaruhi hasil.

baca Juga : Latihan Cuma Sehari! Fidel Lionel Tatap Pertarungan Beginner Final Region B Motoprix 2026
Karena itu, data 25,7 HP dari Mototech lebih tepat disebut sebagai angka tenaga roda sesuai konfirmasi mekanik. Untuk angka 27,1 HP di Pekajaman, jenis tenaga yang dilaporkan perlu diperjelas jika ingin melakukan perbandingan teknis secara langsung.
Racikan Mesin, Transmisi dan Pembalap dalam Satu Paket
Pengembangan motor balap tidak berhenti pada pemilihan komponen mesin. Setiap perubahan perlu disesuaikan dengan kemampuan pembalap dan kebutuhan lintasan.
Karakter tenaga yang progresif, hasil dyno dan penggunaan transmisi enam percepatan menjadi bagian dari racikan MX King Farel. Tujuan pengaturan tersebut adalah menghadirkan motor dengan respons yang sesuai untuk digunakan Farel sebagai pembalap beginner.
Di balik persiapan tersebut, Farel mendapat dukungan dari tim H. Lanosin Bintang Centula 41RK serta para sponsor Erdeve, Vamos, SAE, Sayvana, VND, NGK, NHK, Ulti-X, Koizumi dan MKO.
Kiprah Farel sebagai Juara Beginner Jawa menjadi latar yang menarik untuk membahas hubungan antara performa pembalap dan racikan mesin. Dari sisi teknis, angka dyno merupakan salah satu bagian dari evaluasi, sementara kemudahan pengendalian, kesesuaian rasio dan konsistensi di lintasan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

