Otoinfo.id – Satu garasi, satu seragam, tetapi urusan gelar juara nasional tetap harus diperjuangkan sendiri. Itulah gambaran menarik menjelang final MLDSPOT Autokhana 2026 di GOR Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu (7/11). Dua peslalom Toyota Gazoo Racing Indonesia (TGRI), AM Naufal Shafwan dan Anjasara Wahyu, datang dengan posisi klasemen yang cukup menggelitik.
Naufal memimpin Group F dengan 72 poin. Sementara Anjasara membuntuti dengan 68 poin. Selisih empat poin membuat persaingan keduanya layak mendapat perhatian. Lantas, bagaimana TGRI menyikapi persaingan dua pembalapnya sendiri?
Anjasara: Semua Harus Tampil All Out!
Ketika OTOINFO menghubungi Anjasara dan menanyakan kemungkinan adanya strategi tim, jawabannya cukup lugas. “Untuk semua pembalap dituntut untuk memberikan hasil yang maksimal sih, Om. Jadi harus tampil all out semua, hehe,” ungkap Anjasara kepada OTOINFO. Jawaban tersebut memberi gambaran bahwa setiap peslalom tetap membawa tuntutan performa maksimal.
Artinya, Naufal tidak bisa sekadar mengandalkan keunggulan poin. Sebaliknya, Anjasara juga harus membuktikan kemampuannya di lintasan. Meski demikian, pernyataan tersebut belum menjelaskan secara rinci bagaimana TGRI mengatur strategi menghadapi perebutan gelar. Satu hal yang pasti, Anjasara tidak menunjukkan niat untuk tampil setengah hati.
Lintasan Panjang? Anjasara Pilih Gaspol!
Menariknya, Anjasara juga memberikan sedikit bocoran mengenai karakter lintasan final Yogyakarta. Ketika OTOINFO menanyakan strategi menghadapi layout sirkuit, ia justru menjawab dengan gaya santai. “Untuk layout cenderung panjang. Nah, kalau panjang-panjang cenderung harus gaspol aja, Om,” katanya sambil tertawa.
Jawaban sederhana itu tentu bukan berarti urusan teknis bisa diabaikan. Lintasan slalom tetap menuntut ketepatan membaca jalur, mengatur pengereman, dan menjaga momentum saat melewati rintangan. Gaspol memang penting. Namun, kalau salah mengambil jalur, yang bertambah panjang bukan cuma lintasan. Bisa-bisa daftar penyesalannya juga!
Empat Poin dan Tekanan Final
Persaingan Naufal dan Anjasara semakin menarik karena keduanya memiliki modal kemenangan sepanjang musim. Naufal sukses merebut podium pertama Group F pada seri keempat di Cirebon. Sementara Anjasara pernah memenangkan kelas yang sama pada seri pembuka di Bandung.
Dengan modal tersebut, final Yogyakarta bukan sekadar pertarungan kecepatan, tetapi juga konsistensi dan ketenangan. Keunggulan empat poin menjadi modal Naufal. Namun, peluang Anjasara tetap terbuka, bergantung pada hasil akhir dan ketentuan poin kejuaraan.
Persaingan peslalom lain juga tidak boleh dikesampingkan. Kini, pertanyaannya bukan hanya siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu tampil paling bersih ketika tekanan mencapai puncaknya. Sebab satu tim boleh punya target yang sama. Namun, ketika stopwatch mulai berjalan, tidak ada tombol berbagi waktu!
