OTOINFO.ID – Perang teknologi baterai kendaraan listrik alias electric vehicle (EV) memasuki babak baru. Kali ini, China bukan cuma mengandalkan kecanggihan laboratorium atau kapasitas pabrik raksasa. Pemerintahnya ikut turun tangan melalui kebijakan pajak.
Mulai September 2026, China memberlakukan pajak konsumsi sebesar 2 persen untuk sejumlah kategori baterai lithium-ion. Tarif tersebut dijadwalkan naik menjadi 4 persen pada September 2027.
Menariknya, baterai sodium-ion justru mendapat pembebasan pajak hingga 31 Desember 2028, selama memenuhi standar nasional yang berlaku.
Pertanyaannya, apakah ini sinyal bahwa dominasi baterai lithium mulai digoyang?
China Beri Karpet Merah untuk Baterai Sodium-Ion
Kebijakan tersebut tertuang dalam pengumuman resmi pemerintah China Nomor 20 Tahun 2026 yang diterbitkan pada 16 Juli 2026.
Selain sodium-ion, fasilitas pembebasan pajak juga diberikan kepada baterai solid-state dan fuel cell yang memenuhi persyaratan.
Artinya, China sedang memberikan insentif fiskal kepada sejumlah teknologi penyimpanan energi alternatif.
Namun, jangan buru-buru menyimpulkan baterai lithium bakal masuk museum teknologi.
Pasalnya, lithium-ion, khususnya lithium iron phosphate (LFP), masih memiliki keunggulan dari sisi kematangan industri, skala produksi, dan kepadatan energi.
Hina Battery Siapkan Pabrik 10 GWh, Bukan Sekadar Wacana
Di tengah perubahan kebijakan tersebut, produsen baterai asal China, Hina Battery, mengambil langkah ekspansi.
Perusahaan ini telah menandatangani kesepakatan pembangunan fasilitas produksi baterai sodium-ion di Wuhan pada 14 Oktober 2026.
Target kapasitas produksinya mencapai 10 gigawatt-hour (GWh) per tahun.
Produksi Awal Ditargetkan Berjalan pada 2027
Pembangunan tahap pertama direncanakan berkapasitas 3 GWh, dengan konstruksi dimulai awal 2027 dan produksi perdana ditargetkan sebelum akhir tahun yang sama.
Hina juga menggandeng Chengli Special Automobile Group untuk mengembangkan kendaraan listrik komersial, termasuk truk pengangkut sampah, kendaraan pengendali debu, dan kendaraan pengangkut limbah makanan.
Pilihan segmen tersebut cukup masuk akal. Kendaraan operasional dengan rute relatif tetap lebih memungkinkan penggunaan baterai berukuran besar dibandingkan mobil penumpang yang menuntut bobot ringan dan jarak tempuh panjang.
Baterai Sodium-Ion Tahan Suhu Minus 40 Derajat Celsius
Salah satu daya tarik sodium-ion adalah performanya pada temperatur ekstrem.
Truk listrik FAW Jiefang J6P yang menggunakan baterai sodium-ion Hina berkapasitas 339 kWh dilaporkan telah menjalani pengujian hampir tujuh bulan dengan jarak tempuh lebih dari 15.000 kilometer.
Hasilnya cukup menarik.
Menurut FAW Jiefang, baterai tersebut mampu mempertahankan lebih dari 90 persen kapasitas yang dapat digunakan pada suhu minus 40 derajat Celsius.
Tentu saja, angka tersebut merupakan hasil pengujian yang dilaporkan produsen, bukan jaminan semua baterai sodium-ion akan memiliki performa serupa.
Apakah Baterai Sodium-Ion Lebih Murah daripada Lithium?
Nah, di sinilah persoalannya.
Sodium merupakan bahan baku yang lebih melimpah dibandingkan lithium. Secara teori, kondisi tersebut membuka peluang menekan biaya material.
Namun, biaya produksi baterai tidak sesederhana menghitung harga bahan baku.
Sodium-ion masih menghadapi tantangan kepadatan energi yang relatif rendah serta biaya pengolahan material anoda hard carbon.
Bahkan, turunnya harga lithium membuat selisih biaya antara sodium-ion dan baterai LFP semakin kompetitif.
Jadi, bahan bakunya boleh lebih murah. Tetapi kalau proses produksinya masih mahal, konsumen belum tentu menikmati harga baterai yang lebih bersahabat.
Indonesia Perlu Mencermati Strategi China
Bagi Indonesia, perkembangan ini layak mendapat perhatian.
Indonesia sedang mengembangkan ekosistem kendaraan listrik dengan investasi besar pada industri baterai berbasis nikel.
Munculnya sodium-ion tidak otomatis mengancam investasi tersebut. Namun, diversifikasi teknologi baterai menjadi persoalan strategis yang tidak boleh diabaikan.
Terlebih, kebutuhan baterai kendaraan niaga, mobil perkotaan, dan sistem penyimpanan energi tidak selalu sama.
Catatan OTOINFO: Persaingan industri EV ke depan bukan hanya soal siapa memiliki cadangan mineral terbesar, melainkan siapa paling cepat mengubah teknologi menjadi produk yang efisien, kompetitif, dan layak diproduksi massal.
China tampaknya memahami permainan ini.
Sementara negara lain sibuk menghitung kekayaan mineralnya, China sudah mulai mengatur insentif untuk teknologi berikutnya.
Dan di industri otomotif, terlambat membaca tikungan kadang lebih menyakitkan daripada kalah di trek lurus.
