
Otoinfo.id – “Nggak bakalan pembalap go internasional tanpa ATPM.”
Kalimat tersebut menjadi kegelisahan salah satu orang tua pembalap muda yang sedang berusaha membawa anaknya menuju level internasional. Bukan karena sang anak tidak punya kemampuan, tetapi karena biaya, akses, kontrak tim, sponsor dan jalur pembinaan dianggap semakin kompleks.
“Ada orang yang bilang, nggak bakalan pembalap Go Internasional tanpa ATPM. Apa mungkin saya dengan keterbatasan mendorong anak saya Go Internasional. Soalnya pembalap sekarang udah kayak dimonopoli sama pabrikan. Padahal kesempatan mereka berkembang sendiri sangat besar. Contohnya event Asia Talent Cup, R3 Blue Cru, Thailand Talent Cup. Operasionalnya besar. Kalau ikut tim, helm sudah dikuasai sama tim atau bahkan EO. Jika rider sudah dapat kontrak sponsor helm juga nggak bisa dicairkan, orang pas balapan nggak dipakai.”
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar:

Benarkah rider muda hampir mustahil menembus balap dunia tanpa berada di bawah pabrikan?
Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.
Pabrikan Bukan Satu-Satunya Jalan
Fakta di dunia balap menunjukkan bahwa jalur menuju level dunia tidak selalu dimulai dari akademi pabrikan.
Lihat perjalanan Jack Miller. Ia memulai road racing setelah sebelumnya berkompetisi di dirt track, kemudian menjuarai IDM 125cc, masuk ke Kejuaraan Dunia dan berkembang bersama tim-tim independen sebelum langsung melompat dari Moto3 ke MotoGP pada 2015.
Contoh lain adalah Jorge Martin. Ia memulai dari Red Bull Rookies Cup, kemudian menjalani perjalanan melalui Aspar, Gresini dan KTM Ajo sebelum akhirnya masuk MotoGP bersama Pramac Racing. Ia bahkan kemudian menjadi Juara Dunia MotoGP 2024.
Artinya, menjadi “anak pabrikan” bukan tiket wajib.
Tetapi ada fakta lain yang tidak kalah penting.
Yang Mahal Bukan Hanya Motor
Untuk mencapai level internasional, rider membutuhkan testing, ban, mekanik, transportasi, akomodasi, pelatih, data, entry fee, perjalanan antarnegara dan waktu balap.
Di sinilah program pembinaan menjadi penting.
MotoGP sendiri membangun Road to MotoGP, termasuk Moto4 Asia Cup dan jenjang MotoJunior. Program tersebut dirancang untuk membuka akses bagi talenta muda dari berbagai latar belakang.
Yamaha pun memiliki bLU cRU sebagai jalur pembinaan dari kompetisi nasional menuju level dunia. Program tersebut memberikan coaching, dukungan teknis dan peluang naik kelas.
Jadi persoalannya bukan sekadar pabrikan versus independen.
Persoalannya adalah:
Siapa yang membayar perjalanan seorang talent sampai talent tersebut cukup terlihat untuk direkrut?
Di Sinilah Perdebatan Dimulai
Kalau seorang anak punya bakat tetapi keluarganya memiliki keterbatasan finansial, apakah bakat tersebut tetap mempunyai jalan menuju dunia?
Jika masuk program pabrikan, ada jalur yang lebih terstruktur.
Jika memilih jalur independen, kebebasan mungkin lebih besar, tetapi biaya dan risiko juga bisa semakin berat.
Maka pertanyaan orang tua tadi sangat relevan:
Apakah industri balap Indonesia sudah benar-benar membuka kesempatan berdasarkan talenta, atau akses menuju panggung dunia semakin ditentukan oleh siapa yang memiliki sistem dan biaya?
Jawabannya tidak bisa hanya dilihat dari jumlah rider yang berhasil.
Kita harus melihat berapa banyak talent yang sebenarnya berhenti sebelum kesempatan mereka datang.
Karena mungkin persoalannya bukan Indonesia kekurangan rider berbakat.
Mungkin kita yang belum cukup banyak menyediakan jalan bagi mereka untuk sampai ke dunia.

