Otoinfo.id – Dibalik fakta podium yang diraih oleh Moch. Zidan Dea Rehendra pada race-2 Indonesia Junior Talent Cup (IJTC) U-15 rouund 4 Mandalika Racing Series (MRS) akhir pekan kemarin (19-20/9), muncul nama Redline57 Racing Team. Balap mania bertanya penasaran, siapa yang ada dibelakangnya? Yuk simak!

Sebuah tim balap tidak selalu lahir dari rencana panjang. Redline57 Racing Team menjadi salah satu contohnya.Tim yang dipimpin Albert Twilanda, pria asal Bogor, Jawa Barat, ini awalnya justru dipersiapkan untuk menghadapi kompetisi musim 2027. Namun, sebuah perubahan dalam perjalanan Albert membuat proyek tersebut berjalan lebih cepat.
Sebelum membangun Redline57, Albert merupakan salah satu owner Dewata Racing Team. Namun karena adanya kesalahpahaman dan perbedaan visi-misi, ia akhirnya memilih keluar dan membangun tim sendiri.
Baca Juga : Tiga Tahun Menunggu, Zidan Deo Akhirnya Pecah Telur di MRS Round 4
“Histori tim ini sebenarnya dadakan. Tim ini sebenarnya saya persiapkan untuk seri tahun depan, 2027,” ungkap Albert.
Keputusan tersebut tidak dilakukan seorang diri. Albert menyebut dukungan dari teman-teman dan sejumlah pihak menjadi bagian penting hingga Redline57 akhirnya terbentuk.
Salah satunya adalah Doni Racing School (DRS) yang disebut Albert memiliki peran dalam perjalanan awal tim tersebut.
Angka 57 Punya Makna Khusus
Di balik nama Redline57 ternyata terdapat cerita yang cukup personal.
Nama Redline merupakan pilihan dari sang istri. Sementara angka 57 diambil dari nomor balap almarhum Hokki Krisdianto, sosok yang pernah menjadi pelatih Albert.
Bagi Albert, Hokki bukan sekadar seorang pelatih. Ada ilmu, pengalaman dan perjuangan yang pernah diberikan sang mentor kepadanya.
Karena itu, angka 57 kemudian dijadikan bagian dari identitas tim.
“Saya telah berjanji kepada almarhum untuk meneruskan apa yang dia perjuangkan sebelum dia meninggal. Tim ini saya dedikasikan untuk almarhum,” tutur Albert.
Dengan demikian, Redline57 tidak hanya membawa nama sebuah tim balap. Ada penghormatan dan sebuah janji yang ingin terus dijaga Albert melalui dunia balap.
Tiga Pembalap, Dua Kelas
Untuk menjalankan proyeknya, Redline57 menyiapkan tiga pembalap muda.
Mereka adalah I Putu Krisna Yoga dan M. Zidane Deo yang diproyeksikan turun di kelas JS150 U15, serta M. Maulana Malik untuk kategori Sport 250 U18.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa Redline57 tidak hanya berbicara mengenai hasil balapan, tetapi juga memiliki perhatian terhadap proses pembentukan pembalap muda.

Di kelas JS150 U15, pembalap masih berada dalam fase penting untuk membangun dasar kemampuan balap. Mulai dari memahami racing line, menentukan braking point, mengatur bukaan throttle, menjaga momentum di tikungan hingga berkomunikasi dengan mekanik.
Sementara itu, kelas Sport 250 U18 memiliki tantangan berbeda. Karakter motor dan kecepatan yang lebih tinggi menuntut kemampuan rider dalam mengelola pengereman, akselerasi, cornering, gearing, kondisi ban hingga konsistensi lap time.
Mandalika Menjadi Bagian dari Proses
Meski proyek utama Redline57 dipersiapkan untuk 2027, aktivitas tim sudah terlihat di lintasan.
Dokumentasi yang diperoleh Otoinfo.id memperlihatkan tiga motor Redline57 dengan nomor 164, 179 dan 36 berada di garasi tim saat aktivitas balap di Mandalika.
Salah satu dokumentasi juga menunjukkan rider nomor 164 meraih podium P2 pada Pertamina Mandalika Racing Series.
Bagi tim yang sedang membangun fondasi, pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dari proses.

Balapan bukan hanya soal podium. Setiap sesi di lintasan memberikan data yang dapat digunakan untuk mengevaluasi karakter rider, performa motor, setup, ban, racing line hingga komunikasi antara pembalap dan mekanik.
Semua itu nantinya menjadi modal untuk membangun tim secara lebih matang.
Redline57 dan Perjalanan Menuju 2027
Redline57 mungkin bermula dari sebuah keputusan yang cukup mendadak.
Namun kini Albert Twilanda memiliki sebuah proyek yang lebih besar. Ada tiga pembalap muda yang dipersiapkan, ada tim yang sedang membangun sistem kerja, serta ada pengalaman di lintasan yang menjadi bagian dari proses menuju musim 2027.
Lebih dari itu, ada alasan personal yang membuat perjalanan ini memiliki makna tersendiri.
Angka 57 menjadi pengingat terhadap almarhum Hokki Krisdianto. Sementara tiga pembalap muda menjadi bagian dari generasi yang akan membawa semangat tersebut ke lintasan.
Redline57 akhirnya bukan hanya tentang membangun sebuah tim balap.
Bagi Albert, ini adalah tentang meneruskan perjuangan seorang mentor melalui suara mesin dan generasi baru di lintasan balap.


