Otoinfo – Ada cerita panjang di balik podium kedua yang diraih Moch. Zidan Deo Rahendra bersama Redline 57 Racing Team pada Race 2 kelas Indonesia Junior Talent Cup (IJTC) U-15 dalam gelaran Mandalika Racing Series (MRS) Round 4.

Bagi rider bernomor start 164 tersebut, podium ini bukan sekadar hasil akhir sebuah balapan. Ini menjadi jawaban dari penantian panjang selama tiga tahun.
“Alhamdulillah bisa meraih podium dua di Race 2 MRS. Setelah tiga tahun menunggu akhirnya pecah telur juga di seri 4,” ungkap Zidan.
Baca Juga : Alexander Al Malik Tunjukkan Kematangan di LENKA Junior Cup Prix Subang
Tiga Tahun Menunggu Podium
Dalam balap motor, hasil tidak selalu datang secepat kerja keras yang dilakukan seorang rider.
Seorang pembalap muda bisa menjalani latihan, mengikuti banyak balapan dan terus memperbaiki kemampuan, tetapi podium tetap membutuhkan kombinasi antara skill, konsistensi, kesiapan motor hingga kemampuan mengambil keputusan di lintasan.
Itulah yang membuat podium Zidan di MRS Round 4 terasa berbeda.
Tiga tahun tanpa podium bukan berarti tidak ada perkembangan. Justru periode tersebut bisa menjadi bagian penting dalam proses membangun fondasi seorang rider.
Mulai dari memahami karakter motor, mencari racing line yang efektif, menentukan titik pengereman, menjaga momentum di tikungan hingga membaca pergerakan rival, semuanya menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Baca Juga : Fahmi dan Fadli Kuasai Superpole Race NS150 MRS 2026 Seri 4, Gelar Juara Siap Dikantongi
Bukan Sekadar Soal Kecepatan
Di kelas IJTC U-15, kecepatan saja tidak cukup.
Rider harus mampu menjaga ritme selama balapan sekaligus membuat keputusan dalam situasi yang berubah sangat cepat.
Kapan harus menyerang, kapan harus bertahan, bagaimana menjaga posisi dan bagaimana memanfaatkan momentum menjadi bagian dari race craft yang terus berkembang seiring bertambahnya pengalaman.
Dalam konteks tersebut, podium kedua Zidan bisa menjadi indikasi bahwa pengalaman yang dikumpulkan selama tiga tahun mulai mampu dikonversikan menjadi performa balap.
Bukan hanya soal seberapa cepat motor melaju, tetapi bagaimana rider mampu memaksimalkan setiap kesempatan yang muncul di lintasan.
Dukungan di Balik Perjalanan Zidan
Zidan juga tidak lupa menyampaikan apresiasi kepada orang-orang yang selama ini mendukung perjalanannya.
“Banyak-banyak saya sampaikan terima kasih ke Om Albert, Kak Doni DRS, Om Dewa Coker,” lanjutnya.
Dukungan seperti ini memiliki peran penting dalam pembentukan rider muda.
Sebab performa di lintasan tidak hanya ditentukan oleh keberanian membuka gas. Ada proses komunikasi antara rider, mekanik, tim dan orang-orang yang berada di belakangnya.
Baca Juga : Mas Kawuk dan #TentangRasa: Ketika Balap Satrio Bukan Sekadar Mengejar Podium
Semakin baik komunikasi tersebut, semakin besar peluang rider memahami apa yang harus diperbaiki dari satu sesi ke sesi berikutnya.

Podium Pertama Bukan Akhir
Podium kedua di MRS Round 4 akhirnya menjadi lebih dari sekadar angka di hasil balapan.
Bagi Zidan Deo, ini adalah bukti bahwa proses panjang selama tiga tahun akhirnya menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan secara nyata.
Namun, podium pertama juga membawa tantangan baru.
Setelah berhasil “pecah telur”, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa hasil tersebut bukan sekadar momentum satu seri.
Konsistensi, kemampuan membaca balapan, pengembangan race craft dan kematangan dalam mengelola tekanan akan menjadi bagian penting dari perjalanan Zidan berikutnya.
Karena dalam balap motor, satu podium adalah pencapaian. Tetapi konsistensi adalah proses untuk membangun prestasi.
Dan bagi Zidan Deo Rahendra, podium kedua di MRS Round 4 bisa menjadi awal dari babak baru perjalanan balapnya.


