Otoinfo – Perjalanan seorang pembalap tidak selalu dimulai dari podium. Kadang, pencapaian paling penting justru ketika seorang rider mulai memahami lintasan, menemukan ritme, dan berani menghadapi persaingan dengan pembalap yang memiliki pengalaman lebih banyak.

Cerita itu sedang dijalani Fiandra Reja dan Firza Angkasa bersama Bali Queen Racing Team di SIC Ohvale Junior Championship, Sepang Karting International Circuit, Malaysia.
Keduanya masih sangat muda dalam dunia balap. Menurut Bos Alvin, ayah Fiandra dan Firza sekaligus pemilik Bali Queen Racing Team, jam terbang keduanya baru sekitar 3–4 bulan.
Namun dalam waktu relatif singkat tersebut, Fiandra dan Firza sudah mendapat kesempatan merasakan langsung atmosfer kompetisi di Sepang.
Sepang Jadi Ruang Belajar
Bagi Fiandra dan Firza, Sepang bukan sekadar tempat mengejar posisi finis.
Lintasan ini menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana seorang pembalap harus bekerja dengan kemampuan dirinya sendiri.
Pada Race 1, Fiandra mampu finis P7 di rombongan kedua dengan catatan waktu 57,5 detik. Sementara Firza menyelesaikan balapan di posisi P9 dengan catatan waktu 59,0 detik.
Bagi Alvin, catatan waktu Fiandra menjadi salah satu perkembangan yang menarik.
“Secara time sudah sangat baik. Catatan time 57,5 ini race pace-nya sudah sama dengan rider top Malaysia,” ungkap Alvin.
Catatan tersebut semakin menarik karena Fiandra baru menjalani latihan sekitar dua hari di Sepang.
Sementara itu, menurut Alvin, sejumlah rider lain yang dihadapi Fiandra sudah lebih dahulu memiliki kesempatan latihan rutin di lintasan tersebut.
“Dengan latihan dua hari saja di sini Fiandra bisa dapat 57,5. Tentunya sangat istimewa mengingat rider lain memang sudah lebih dahulu setiap hari latihan di sini,” tambahnya.
Belajar dari Setiap Lap
Kecepatan tersebut tentu tidak muncul begitu saja.
Fiandra dan Firza harus mulai memahami berbagai detail penting dalam balapan, mulai dari titik pengereman, racing line, momentum ketika masuk dan keluar tikungan, hingga bagaimana menjaga ritme dari satu lap ke lap berikutnya.
Menariknya, kompetisi yang mereka ikuti juga memberikan batasan cukup ketat terhadap perubahan pada motor.
Menurut Alvin, setelan kopling, shock, ukuran tekanan ban hingga penggunaan ban tidak bisa bebas diubah. Perubahan gear pun hanya dapat dilakukan secara terbatas dan harus memiliki alasan yang masuk akal.
Dengan kondisi tersebut, kemampuan pembalap menjadi bagian penting dalam mencari performa.
Motor memiliki batas. Skill pembalap yang harus berbicara.
Di sinilah pengalaman menjadi modal penting bagi Fiandra dan Firza.
Setiap lap memberikan informasi baru. Setiap kesalahan menjadi bahan evaluasi. Sementara setiap peningkatan catatan waktu menunjukkan proses adaptasi yang mulai berkembang.
Race 2 Jadi Pelajaran Berikutnya
Race 2 memang belum memberikan hasil sebaik Race 1 untuk Fiandra.
Ia harus menyelesaikan balapan di posisi P10 setelah mengalami senggolan sesaat selepas start.
Namun bagi pembalap yang baru beberapa bulan mengenal dunia balap, situasi seperti itu juga menjadi bagian dari proses belajar.
Balapan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Seorang rider harus belajar menghadapi situasi ketika kehilangan posisi, berada di tengah rombongan, mengambil keputusan dengan cepat, hingga kembali membangun ritme setelah mengalami masalah.
Sementara Firza juga terus beradaptasi dengan karakter lintasan dan persaingan di Sepang.
Belum ada tuntutan bahwa semuanya harus langsung sempurna.
Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya terus berkembang dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Bukan Sekadar P7 atau P9
Bagi Bali Queen Racing Team, perjalanan di Sepang bukan hanya tentang angka di hasil akhir.
Ada proses yang sedang dibangun.
Fiandra mulai menemukan pace 57,5 detik, sementara Firza mulai berada di wilayah 59 detik.
Keduanya juga mulai memahami bagaimana menghadapi lintasan, regulasi dan persaingan dengan rider yang memiliki pengalaman lebih panjang.
Dengan usia pengalaman balap yang baru 3–4 bulan, setiap lap di Sepang menjadi investasi jam terbang.
Mungkin hari ini Fiandra dan Firza masih belajar mengejar waktu. Tetapi setiap lap yang mereka jalani sedang membangun bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.
Sebab seorang pembalap tidak dibentuk hanya oleh kemenangan.
Pembalap dibentuk oleh jam terbang, keberanian mencoba, kemauan belajar dari kesalahan, dan konsistensi untuk terus kembali ke lintasan.


