Otoinfo – Ada sisi menarik dari kiprah Fiandra Reja dan Firza Angkasa bersama Bali Queen Racing Team di SIC Ohvale Junior Championship, Sepang Karting International Circuit, Malaysia.

Bukan hanya mengenai posisi finis atau catatan waktu.
Lebih dari itu, pengalaman di Sepang menjadi ruang bagi dua pembalap muda tersebut untuk belajar berkompetisi dalam kondisi ketika ruang untuk mengubah performa motor sangat terbatas.
Baca Juga : Fiandra Tembus 57,5 Detik di Sepang, P7 Race 1, Bos Alvin: Race Pace Sudah Setara Rider Top Malaysia
Motor Bukan Senjata Utama
Menurut Bos Alvin, ayah Fiandra dan Firza sekaligus pemilik Bali Queen Racing Team, regulasi yang mereka hadapi membuat pembalap tidak bisa bebas melakukan perubahan pada motor.
Setelan kopling, shock, ukuran tekanan ban hingga penggunaan ban tidak bisa diubah sesuka hati.
Bahkan untuk gear ratio, kesempatan perubahan juga sangat terbatas.
Pembalap hanya diperbolehkan menaikkan satu atau menurunkan satu gear, itu pun harus disertai alasan yang masuk akal.
Dengan kondisi tersebut, pembalap tidak memiliki banyak ruang untuk mencari keuntungan hanya melalui perubahan setting motor.
Skill rider akhirnya menjadi faktor penting.
Pembalap Dipaksa Menemukan Batas Kemampuan
“Balap di Malaysia ini sangat memberikan pembelajaran untuk Fiandra dan Firza karena tidak mengandalkan motor, melainkan murni skill pembalap,” jelas Alvin.
Dalam kondisi seperti itu, setiap detail kemampuan rider menjadi lebih terlihat.
Mulai dari bagaimana menentukan titik pengereman, memilih racing line, menjaga kecepatan saat memasuki tikungan hingga menentukan momentum ketika keluar tikungan.
Termasuk bagaimana pembalap membuka throttle dan mempertahankan kecepatan dari satu lap ke lap berikutnya.
Semua membutuhkan pengalaman.
Dan pengalaman tersebut tidak bisa didapat hanya dengan mengubah setting motor.
Baca Juga : Dua Kali Juara Asia, Apa Peran Velg X1R di MX King Alfi Husni? Ini Penjelasan Mr. Leo
Catatan 57,5 Detik Fiandra
Proses tersebut mulai terlihat dari perkembangan Fiandra Reja.
Pada Race 1, Fiandra mampu mencatat waktu 57,5 detik dan finis di posisi ke-7 rombongan kedua.
Menurut Alvin, catatan tersebut bahkan sudah masuk dalam wilayah race pace rider top Malaysia.
Angka tersebut menjadi semakin menarik karena Fiandra baru memiliki kesempatan latihan sekitar dua hari di lintasan Sepang.
Sementara sejumlah rider yang dihadapinya sudah lebih dahulu memiliki kesempatan berlatih secara rutin di sirkuit tersebut.
“Dengan latihan dua hari saja di sini Fiandra bisa dapat 57,5. Tentunya sangat istimewa mengingat rider lain memang sudah lebih dahulu setiap hari latihan di sini,” kata Alvin.
Bagi seorang pembalap, selisih waktu bukan sekadar angka.
Peningkatan pace menunjukkan bagaimana rider mulai memahami karakter lintasan dan mampu mengulang performanya secara lebih konsisten.
Firza Juga Terus Beradaptasi
Di sisi lain, Firza Angkasa juga masih menjalani proses yang sama.
Pada Race 1, pembalap muda tersebut mencatat waktu 59,0 detik dan finis di posisi ke-9.
Belum berbicara mengenai posisi terdepan, tetapi setiap lap yang dijalani Firza di Sepang menjadi tambahan jam terbang.
Terlebih, pengalaman kedua pembalap di dunia balap baru sekitar 3–4 bulan.
Artinya, mereka masih berada pada fase membangun fondasi.
Sepang Jadi Sekolah Skill
Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman Fiandra dan Firza di Malaysia.
Mereka tidak hanya dituntut untuk menjadi cepat.
Mereka juga harus mampu membaca karakter lintasan, memahami kapan harus mengerem, menentukan racing line, menjaga momentum dan mengambil keputusan ketika berada di tengah rombongan.
Hal-hal tersebut merupakan bagian dari skill balap yang dibangun melalui repetisi dan pengalaman.
Di sinilah pengalaman Sepang menjadi penting bagi keduanya.
Lintasan tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi cepat, tetapi juga bagaimana memahami dari mana kecepatan itu berasal.
Bukan Soal Siapa Punya Motor Lebih Hebat
Bagi Bali Queen Racing Team, pengalaman ini menjadi bagian dari proses panjang membentuk Fiandra dan Firza.
Ketika ruang untuk mengubah motor dibatasi, kemampuan pembalap menjadi semakin terbuka untuk dinilai.
Mereka harus menemukan sendiri cara untuk mengerem lebih efektif, membawa kecepatan lebih tinggi di tikungan dan keluar tikungan dengan momentum yang tepat.
Karena itu, hasil dari Sepang tidak semata-mata dilihat dari posisi finis.
Ada data, pengalaman dan proses adaptasi yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang.
Fiandra dengan catatan 57,5 detik, sementara Firza terus membangun ritmenya di angka 59 detik.
Keduanya masih memiliki perjalanan panjang.
Namun satu hal sudah terlihat.
Di Sepang, bukan hanya motor yang diuji. Skill Fiandra dan Firza juga sedang ditempa.


