
, Otoinfo.id – Mimpi besar terkadang lahir dari hal sederhana. Bagi Farel Bintang, perjalanan menuju dunia balap bermula saat dirinya menyaksikan gelaran Dragbike di Alun-Alun Karanganyar.
Saat itu, rasa penasaran mulai tumbuh. Farel kemudian melihat aktivitas latihan balap di Gedung Wanita Karanganyar. Dari sekadar menjadi penonton, muncul keinginan untuk mencoba balap motor.
Menariknya, Farel tidak berasal dari keluarga pembalap. Sang ayah, Umar Wiyogo Sutrisno, juga bukan mantan pembalap. Menurut Umar, keinginan menekuni dunia balap justru datang dari Farel sendiri.

Baca Juga : Farel Bintang, Belajar dari Mijen dan Menatap YCR Boyolali
Mulai Balap Motor di Usia 9 Tahun
Ketika berusia 9 tahun, Farel mulai berlatih menggunakan pocket bike. Keputusan tersebut sempat membuat kedua orang tuanya terkejut. Namun, mereka memilih untuk mendukung keinginan sang anak. Meski begitu, dukungan tersebut tetap dibarengi dengan kekhawatiran. Bagi orang tua, keselamatan Farel menjadi perhatian utama.
Mereka juga memahami bahwa dunia balap tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan. Karena itu, Farel perlu belajar menghadapi kemenangan maupun kekalahan. Bagi keluarga, proses tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk mental Farel sebagai pembalap muda.
Baca Juga : Farel Bintang Kejar Ritme Terbaik di Mijen, Final Gir 14-48 Jadi Andalan, Ini Analisanya!
Balap Motor dan Sekolah Harus Berjalan Bersama
Kini, Farel telah berusia 11 tahun. Ia duduk di kelas 6B SD Aisyiyah Surya Ceria. Aktivitas balap tidak membuat Farel meninggalkan pendidikan. Keduanya tetap dijalankan secara bersamaan.
Farel mengikuti kegiatan sekolah dari Senin hingga Jumat. Ia juga mengikuti les pelajaran pada Senin, Rabu dan Kamis. Sementara itu, jadwal latihan motor dilakukan pada Selasa, Jumat dan Sabtu.
Ketika harus izin mengikuti balapan, Farel tetap mengejar materi pelajaran yang tertinggal. Pihak sekolah juga memberikan kemudahan dalam proses perizinan. “Untuk sekarang diusahakan keduanya jalan,” ujar Umar mengenai keseimbangan pendidikan dan balap Farel.
Baca Juga : Farel Bintang Siapkan Mental dan Setting Motor Jelang Final MotoPrix Mijen
Farel merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Karena itu, perjalanan balapnya juga menjadi bagian dari dinamika keluarga. Dukungan orang tua tetap diberikan. Namun, pengawasan dan pendidikan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Raih Podium di Sirkuit Mandalika
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi keluarga adalah ketika Farel mampu mengikuti balapan dengan baik dan menyelesaikan race dengan selamat. Bagi orang tua, keselamatan anak tetap menjadi pencapaian penting. Hasil balapan menjadi bagian berikutnya dari proses tersebut.
Perlahan, Farel mulai menunjukkan hasil positif. Ia berhasil meraih podium dalam ajang Idemitsu BLU CRU Yamaha Sunday Race 2026 yang berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok.
Prestasi tersebut menjadi pengalaman penting bagi Farel dalam membangun kepercayaan diri dan menambah jam terbang di lintasan. Namun, podium bukanlah akhir perjalanan.
Farel Bintang Ingin Jadi Pembalap Internasional
Di usia 11 tahun, Farel masih memiliki perjalanan panjang untuk berkembang sebagai pembalap. Kemampuan teknik perlu terus diasah. Begitu juga dengan pengalaman, mental, disiplin dan konsistensi.
Di sisi lain, pendidikan tetap harus berjalan. Menariknya, cita-cita menjadi pembalap bukan datang dari paksaan orang tua. Keinginan tersebut tumbuh dari diri Farel setelah melihat dunia balap secara langsung.
Baca Juga : Farel Bintang Tampil Potensial di Motoprix 2026 Subang, Mulai Bersaing dan Kompetitif!
Kini, Farel memiliki mimpi yang lebih besar. Ia ingin menjadi pembalap internasional. Perjalanan Farel bermula dari seorang anak yang hanya menyaksikan Dragbike di Alun-Alun Karanganyar. Kini, ia mulai membangun jalannya sendiri di dunia balap.
Perjalanan tersebut bukan hanya tentang mengejar podium. Ada keluarga yang memberikan dukungan, sekolah yang membantu menjaga pendidikan dan lingkungan yang menjadi bagian dari proses perkembangan Farel.
Pada akhirnya, menjadi pembalap muda bukan hanya tentang seberapa cepat melaju di lintasan. Lebih dari itu, Farel sedang belajar untuk tumbuh, berproses dan berani mengejar mimpinya.

