
Otoinfo.id – Pembalap muda asal Karanganyar, Jawa Tengah, Farel Bintang, terus mengasah performa menjelang Kejurnas MotoPrix Final Region B (Jawa) 2026 di Sirkuit Mijen, Semarang, 26–27 September. Siswa SD Aisyiyah Surya Ceria Karanganyar ini tengah berupaya menemukan ritme terbaik bersama Yamaha MX King garapan The Stroke55 (Bima Aditya).
Dalam sesi setting, Kamis (25/9), catatan waktu Farel masih berada di kisaran 48 detik kecil. Padahal, sehari sebelumnya ia sempat menorehkan waktu 47 detik besar.
Baca Juga : Di Mijen, Gaspol Saja Tidak Cukup: Farel Bintang #57 Bawa Mental ‘Bangkit’ ke Final MotoPrix

“Hari ini masih 48 koma kecil, kemarin sempat 47 tapi koma besar,” ungkap Om Umar, ayahanda Farel.
Menariknya, motor Farel mengandalkan kombinasi final gir 14-48. Seperti apa karakter teknisnya untuk menghadapi lintasan Mijen?
Final Gir 14-48, Perpaduan Akselerasi dan Kecepatan
Kombinasi gir depan 14 mata dan gir belakang 48 mata menghasilkan rasio final drive 3,43:1. Secara prinsip, rasio ini tergolong relatif pendek, yang dapat membantu akselerasi motor melalui peningkatan perkalian torsi di roda belakang.
Karakter tersebut berpotensi bermanfaat ketika pembalap keluar dari tikungan dan kembali membuka gas. Namun, gearing pendek juga membuat putaran mesin lebih tinggi pada kecepatan yang sama. Karena itu, pemilihan rasio perlu memperhitungkan kebutuhan akselerasi sekaligus kecepatan di bagian lurus.
Baca Juga : Farel Bintang Tampil Potensial di Motoprix 2026 Subang, Mulai Bersaing dan Kompetitif!
Pada Sirkuit Mijen, kemampuan menjaga momentum di tikungan dan memanfaatkan tenaga mesin saat keluar tikungan menjadi bagian penting dari strategi berkendara. Kombinasi final gir yang digunakan Farel merupakan salah satu elemen untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Kejar Konsistensi Ritme di Mijen
Perbedaan catatan waktu 47 detik besar dan 48 detik kecil menjadi gambaran bahwa Farel masih menjalani proses adaptasi dan evaluasi. Namun, belum tentu hal tersebut berkaitan langsung dengan pemilihan final gir.
Catatan waktu lap juga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari titik pengereman, kecepatan saat menikung, waktu membuka gas, hingga kondisi lintasan. Bagi pembalap kelas Beginner, kemampuan mengulang lap cepat dengan ritme yang stabil menjadi tantangan tersendiri.
Dari sisi teknis, rasio 14-48 dapat menjadi konfigurasi yang menarik untuk dievaluasi berdasarkan respons motor di tikungan dan kebutuhan putaran mesin di bagian lurus. Tanpa data RPM dan kecepatan, belum bisa dipastikan apakah rasio tersebut sudah paling sesuai dengan karakter mesin Farel.
Kini, tantangan Farel adalah memaksimalkan persiapan bersama tim dan menemukan ritme terbaik sebelum balapan akhir pekan ini. Menarik ditunggu bagaimana perkembangan catatan waktunya saat menghadapi persaingan kelas Beginner di final MotoPrix Region B.

