Otoinfo – Podium yang diraih Honda GTR150 spek beginner dengan rider Aqsa Mada racikan Ari Mastetcam Jogja di event road race Sirkuit Pantai Widuri, Pemalang, akhir pekan lalu, menyimpan cerita teknis yang menarik untuk dibedah. Wow!

Di balik hasil balapan tersebut terdapat sebuah paket mesin yang dirancang bukan semata-mata untuk mengejar angka horsepower (HP) di atas dyno, tetapi disesuaikan dengan karakter lintasan.
Ari Mastetcam mengungkapkan, salah satu perubahan penting terdapat pada sektor camshaft. Mesin menggunakan cam dengan durasi 255 derajat, lift 8,7 mm dan overlap klep 2,6 mm.
Menariknya, pemilihan durasi tersebut berkaitan langsung dengan karakter Sirkuit Pantai Widuri yang memiliki lintasan lurus cukup panjang.
“Sebenarnya ada beberapa racikan cam, tapi kami sesuaikan dengan karakter sirkuit di Pantai Widuri yang mempunyai straight lumayan panjang. Jadi kami bikin durasi cam lebih besar dari biasanya, sehingga putaran atasnya lebih jalan,” jelas Ari.
Cam 255 Derajat untuk Mengejar Karakter Putaran Atas
Secara teknis, durasi cam menentukan berapa lama katup membuka selama satu siklus kerja mesin.
Pada Honda GTR150 ini, data valve timing yang diberikan Ari menunjukkan intake open 25 derajat sebelum TMA dan intake close 50 derajat setelah TMB.
Jika dihitung:
25° + 180° + 50° = 255°
Artinya, data tersebut konsisten dengan durasi intake 255 derajat.
Hal yang sama juga terlihat pada sisi exhaust, dengan exhaust open 50 derajat sebelum TMB dan exhaust close 25 derajat setelah TMA.
Durasi yang lebih panjang memungkinkan katup bekerja dalam rentang sudut kruk as yang lebih luas. Tujuannya bukan sekadar membuat mesin memiliki tenaga besar, tetapi menggeser dan mempertahankan karakter pengisian mesin pada putaran yang lebih tinggi.

Karena Pantai Widuri memiliki straight cukup panjang, karakter seperti ini menjadi relevan. Motor membutuhkan kemampuan mempertahankan akselerasi ketika RPM terus naik menuju ujung lintasan lurus.
Baca Juga : Otot Mulai Bicara di Lap Akhir, Benarkah Kekuatan Otot Pengaruhi Race Pace Pembalap Muda?
Namun, cam berdurasi panjang juga bukan solusi universal. Profil cam harus sesuai dengan karakter mesin, airflow, exhaust, kompresi dan rentang RPM yang digunakan.
Intake Close 50° Setelah TMB
Salah satu angka yang menarik adalah intake close 50° ABDC (After Bottom Dead Center).
Katup intake masih terbuka setelah piston melewati titik mati bawah. Pada putaran tertentu, momentum aliran udara yang masuk masih dapat dimanfaatkan untuk membantu pengisian silinder sebelum katup benar-benar menutup.
Karena itu, valve timing seperti ini harus dibaca bersama karakter RPM mesin.
Artinya, cam 255° bukan sekadar angka besar, tetapi merupakan bagian dari strategi untuk mendapatkan karakter powerband yang sesuai dengan kebutuhan balapan.
Lift 8,7 mm dan Overlap 2,6 mm
Selain durasi, cam Honda GTR150 ini memiliki lift 8,7 mm.
Lift menentukan seberapa jauh katup membuka. Namun, membicarakan performa cam hanya berdasarkan lift juga tidak cukup.
Durasi, lift, timing, overlap, airflow head dan exhaust harus bekerja sebagai satu sistem.
Ari juga menyebut overlap klep sebesar 2,6 mm. Area overlap terjadi ketika katup exhaust belum sepenuhnya menutup sementara katup intake mulai membuka di sekitar TMA.
Pada mesin balap, pengaturan overlap menjadi bagian penting dalam menentukan karakter pengisian dan pembuangan gas.
Karena angka overlap tersebut dinyatakan dalam milimeter, bukan derajat, pembacaannya harus dibedakan dari istilah overlap angle.
Head Standar dan TB 28 mm, Tuner Tidak Bisa Sembarangan
Menariknya, mesin ini tidak dibangun dengan kebebasan modifikasi tanpa batas.
Ari menjelaskan bahwa head masih standar sesuai regulasi MotoPrix, sementara throttle body menggunakan ukuran 28 mm sesuai regulasi.
Kondisi tersebut justru membuat pekerjaan tuner menjadi lebih menarik.

Ketika ukuran TB dibatasi, strategi tuning bukan sekadar memperbesar saluran udara. Mekanik harus mengoptimalkan bagaimana udara masuk dan dimanfaatkan mesin melalui kombinasi valve timing, camshaft, ECU dan sistem exhaust.
Dengan kata lain, targetnya bukan sekadar sebanyak mungkin udara, tetapi bagaimana airflow tersebut bekerja efektif pada rentang RPM yang dibutuhkan.
ECU UMA M9 dan ProLiner Modifikasi
Sistem elektronik juga menjadi bagian dari paket tersebut.
Honda GTR150 ini menggunakan ECU UMA M9 sesuai regulasi MotoPrix.
Sementara pada sektor exhaust digunakan knalpot ProLiner yang dimodifikasi ulang.
Kombinasi tersebut menjadi penting karena perubahan profil cam akan mengubah karakter airflow mesin. ECU kemudian harus mampu mengatur kebutuhan bahan bakar dan pengapian sesuai karakter mesin.
Di sisi lain, exhaust juga harus mampu mendukung proses pembuangan gas hasil pembakaran.
Jadi, performa mesin bukan berasal dari satu komponen.
Camshaft, intake, head, ECU dan exhaust harus bekerja sebagai satu paket.
Kompresi 11,3:1 dan Output 23 HP dari Roda
Untuk rasio kompresi, mesin menggunakan angka 11,3:1.
Sementara hasil pengujian dyno menunjukkan tenaga sekitar 23 HP, dengan pengukuran dilakukan menggunakan Power Dyno dan diambil dari roda.
Detail ini penting karena angka 23 HP tersebut merupakan wheel horsepower, bukan angka tenaga yang diukur langsung dari crankshaft.
Selain itu, mekanik menyebut RPM maksimum berada di kisaran 9.000 rpm.

Angka tersebut memberikan gambaran mengenai rentang kerja mesin, tetapi belum bisa digunakan untuk menyebut bahwa 9.000 rpm merupakan titik peak power. Untuk mengetahui hal tersebut dibutuhkan grafik dyno yang menunjukkan hubungan antara horsepower, torsi dan RPM.
Begitu pula angka torsi yang disebutkan mekanik sebesar 16,5 perlu dipastikan kembali satuannya sebelum dijadikan data final dalam publikasi teknis.
Podium Pantai Widuri Sekaligus Uji Coba Menuju Mijen
Ada satu cerita yang membuat hasil podium ini semakin menarik.
Menurut Ari, event Pantai Widuri sebenarnya menjadi bagian dari uji coba mesin yang dipersiapkan untuk kebutuhan MotoPrix di Sirkuit Mijen, Semarang.
Artinya, balapan bukan hanya menjadi tempat mengejar hasil, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menguji bagaimana racikan mesin bekerja dalam kondisi kompetisi sebenarnya.

Dyno dapat memberikan data horsepower dan torsi. Namun sirkuit memberikan data yang jauh lebih kompleks.
Mulai dari akselerasi keluar tikungan, respons throttle, karakter powerband, kemampuan motor mempertahankan akselerasi di straight, temperatur, perpindahan gigi hingga konsistensi performa selama race.
Karena itu, podium Honda GTR150 Ari Mastetcam di Pantai Widuri bisa dibaca sebagai hasil sekaligus validasi awal terhadap paket mesin yang sedang dipersiapkan.
Pertanyaan berikutnya tentu menarik: bagaimana karakter mesin tersebut ketika menghadapi tuntutan Sirkuit Mijen?
Dengan cam 255°, lift 8,7 mm, TB 28 mm, head standar regulasi, ECU UMA M9 dan exhaust ProLiner modifikasi, racikan Ari Mastetcam Jogja kini memiliki data lapangan yang cukup menarik untuk dibawa ke tahap pengujian berikutnya.
Spesifikasi Teknis Honda GTR150 Ari Mastetcam
- Cam duration: 255°
- Cam lift: 8,7 mm
- Intake open: 25° BTDC
- Intake close: 50° ABDC
- Exhaust open: 50° BBDC
- Exhaust close: 25° ATDC
- Overlap: 2,6 mm
- Kompresi: 11,3:1
- Throttle body: 28 mm
- Head: standar regulasi MotoPrix
- ECU: UMA M9
- Exhaust: ProLiner modifikasi
- Dyno: Power Dyno
- Pengukuran: dari roda
- Output: 23 HP
- RPM maksimum: ±9.000 rpm
Racikan Honda GTR150 Ari Mastetcam Jogja menunjukkan bahwa membangun mesin balap bukan sekadar mengejar angka horsepower terbesar.
Karakter sirkuit, regulasi, valve timing, airflow, exhaust, ECU dan rentang RPM harus dipertimbangkan sebagai satu kesatuan.
Podium di Pantai Widuri menjadi bukti awal bahwa paket tersebut mampu bekerja dalam kondisi balapan. Tetapi karena mesin tersebut juga dipersiapkan menuju MotoPrix Mijen, menarik untuk melihat apakah karakter yang dirancang untuk Pantai Widuri akan kembali memberikan performa optimal pada karakter lintasan berikutnya.
Menurut Anda, untuk Honda GTR150 regulasi MotoPrix seperti ini, mana yang lebih menentukan performa di lintasan: durasi cam, valve timing, karakter exhaust, atau justru kombinasi seluruh sistem?
Nama : Ari Hermawan
Alamat : Master Camshaft Jogja
Jl. kebon Agung, Pojok 5, Sendangagung, Minggir, Sleman, DIY


