Otoinfo.id – Dalam balap motor, kecepatan bukan hanya tentang seberapa cepat seorang pembalap mampu mencetak best lap. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mempertahankan pace tersebut sampai bendera finis.

Di sinilah kondisi fisik, khususnya kemampuan otot melawan fatigue, mulai memainkan peran penting.
Sejumlah penelitian pada pembalap motor menunjukkan adanya kelelahan otot selama aktivitas balap, termasuk pada otot forearm dan tangan. Penurunan kemampuan otot tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan pembalap mempertahankan kontrol dan output fisiknya sepanjang race.

Namun, apakah berarti semakin kuat otot, semakin cepat race pace?
Tidak sesederhana itu.
Menurut Gandung Darmoko, pelatih fisik asal Yogyakarta yang telah lama menangani pembalap motor, kebutuhan fisik pembalap berbeda dengan atlet yang berlatih untuk membesarkan massa otot.
“Yang dibutuhkan pembalap motor adalah daya tahan. Bebannya tidak harus terlalu berat, tetapi repetisinya lebih banyak dan gerakannya dilakukan dengan cepat,” ujar Gandung dalam wawancara yang dipublikasikan sebelumnya.
Pernyataan tersebut menjadi penting. Dalam balap, pembalap tidak hanya membutuhkan maximum strength, tetapi juga strength endurance—kemampuan mempertahankan kerja otot berulang kali tanpa penurunan performa yang besar.
Ketika Napas Masih Oke, Pace Mulai Hilang
Salah satu situasi yang menarik terjadi ketika seorang pembalap merasa napasnya masih terkendali, tetapi lap time mulai melambat pada beberapa lap terakhir.
Kondisi seperti ini tidak otomatis berarti masalah kardio. Fatigue pada otot juga perlu diperiksa.
Ketika otot mulai lelah, kualitas pengereman, kontrol motor, posisi tubuh, hingga konsistensi input pembalap dapat ikut berubah.
Karena itu, evaluasi pembalap muda sebaiknya tidak berhenti pada best lap.
Tim perlu melihat:
rata-rata lap time,
selisih lap awal dan lap akhir,
konsistensi setiap lap,
respons tubuh setelah beberapa lap,
serta indikasi fatigue pada bagian tubuh tertentu.
Bukan Sekadar Membuat Pembalap “Lebih Kuat”
Gandung sendiri pernah menangani program fisik pembalap melalui kombinasi weight training, circuit training, dan latihan aerobik dalam Yamaha Racing Academy.
Artinya, latihan fisik pembalap seharusnya diarahkan pada kebutuhan balap, bukan sekadar mengejar tubuh yang lebih berotot.
Bagi pembalap muda, tujuan akhirnya sederhana: membuat kemampuan fisik mampu mengikuti tuntutan motor dan riding sampai lap terakhir.
Sebab, race pace yang bagus bukan hanya ketika stopwatch mencatat lap tercepat.
Race pace yang sesungguhnya adalah ketika pembalap masih mampu mempertahankan kualitas riding saat tubuh mulai lelah.
Di situlah sport science menjadi penting—membaca apa yang terjadi pada tubuh, menghubungkannya dengan data lap time, lalu mengubahnya menjadi program latihan yang lebih tepat.
Karena di lintasan, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat pembalap bisa melaju. Tetapi juga seberapa lama tubuhnya mampu mempertahankan kecepatan itu.


