Otoinfo.id-Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi salah satu perhatian dalam dinamika ekonomi nasional beberapa hari terakhir. Suahasil resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 dan kemudian menerima serah terima jabatan dari Purbaya pada 15 September 2026.

Perubahan di kursi bendahara negara tentu memunculkan beragam analisis. Ada yang melihatnya dari perspektif fiskal dan pasar keuangan, sementara pelaku industri lebih banyak menunggu seperti apa kebijakan yang akan diterapkan dan seberapa besar pengaruhnya terhadap biaya produksi serta daya beli masyarakat.
Baca Juga : Pembalap Jambi Siap ‘Jihad’ Dukung Mawan Dragon, Bos Putra LFN HP969 Full Support Menuju IMI Jambi1
Lantas bagaimana pelaku industri parts racing melihat pergantian tersebut?
Teguh Rahardjo, tokoh di balik sejumlah brand aftermarket seperti Koizumi, TRAstart dan Fizumi, melihat persoalan tersebut secara lebih sederhana sekaligus teknis. Menurut pria asal Pati ini, industri parts racing pada dasarnya menghadapi tiga komponen biaya utama.
“Industri parts racing secara biaya ada tiga besar, yaitu material, tenaga kerja dan energi,” ujar Teguh.
Menurutnya, ketiga komponen tersebut sangat menentukan daya saing sebuah industri. Karena itu, kebijakan pemerintah yang mampu menciptakan regulasi lebih adil pada sektor-sektor tersebut akan memberikan ruang bagi industri lokal untuk menjadi lebih kompetitif.
Bukan Sekadar Soal Pergantian Menteri
Teguh menilai pergantian Menteri Keuangan tidak serta-merta langsung mengubah kondisi industri parts racing. Yang lebih penting justru bagaimana kebijakan fiskal dan ekonomi yang kemudian dijalankan pemerintahan.
“Jika pemerintah bisa membuat regulasi yang lebih fair terkait ini tentu industri bisa lebih kompetitif,” jelasnya.
Ia menyoroti sejumlah aspek yang menurutnya punya hubungan langsung maupun tidak langsung terhadap keberlangsungan industri aftermarket, mulai dari perizinan, pajak, hingga bea masuk dan bea keluar.
Baca Juga : Farel Bintang Siapkan Mental dan Setting Motor Jelang Final MotoPrix Mijen
“Kebijakan perizinan, pajak, bea masuk, bea keluar adalah faktor-faktor signifikan untuk kinerja industri terkait kestabilan pasar dan konsumen,” lanjut Teguh.
Bagi produsen parts racing, persoalan tersebut bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Biaya material yang meningkat, ongkos tenaga kerja dan energi yang mahal pada akhirnya dapat mempengaruhi harga produk di tingkat konsumen.
Di sisi lain, pasar parts racing juga sangat bergantung pada daya beli. Konsumen yang memiliki ruang belanja lebih besar tentu memiliki peluang lebih tinggi untuk melakukan pembelian aftermarket, baik untuk kebutuhan kompetisi, modifikasi maupun sekadar meningkatkan performa kendaraan.
Menunggu Arah Kebijakan Suahasil
Suahasil Nazara sendiri bukan sosok baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Sebelum menjadi Menteri Keuangan, ia merupakan Wakil Menteri Keuangan dan memiliki pengalaman panjang di sektor kebijakan fiskal. Pemerintah menyatakan Suahasil mendapat mandat untuk menjaga kesehatan serta kredibilitas keuangan negara.
Karena itu, bagi pelaku industri seperti Teguh, yang menarik bukan sekadar siapa yang duduk di kursi Menteri Keuangan, tetapi arah kebijakan yang akan diambil.
“Menteri baru biasa akan evaluasi kinerja BI termasuk perputaran uang, suku bunga, inflasi, jumlah pengangguran,” katanya.
Dari indikator-indikator tersebut, menurut Teguh, nantinya bisa terlihat apakah kebijakan awal pemerintahan bersama Menteri Keuangan baru akan memberikan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi atau justru membuat aktivitas ekonomi menjadi lebih tertahan.
“Jadi kebijakan awal ini akan pro ke pertumbuhan ekonomi atau malah menekannya,” imbuhnya.
Kalau Daya Beli Naik, Parts Racing Ikut Bergerak
Hubungan antara kebijakan ekonomi makro dan industri parts racing memang tidak selalu terlihat secara langsung. Namun rantainya cukup jelas.
Ketika kondisi ekonomi mendorong aktivitas usaha, lapangan pekerjaan dan daya beli, konsumsi masyarakat berpotensi ikut bergerak. Efek tersebut kemudian dapat menjalar ke berbagai sektor industri, termasuk aftermarket otomotif.
Teguh melihat peluang itu.
“Jika pro kepada pertumbuhan ekonomi maka daya beli masyarakat akan distimuluskan naik sehingga dampak positif bisa dirasakan industri parts,” bebernya.
Pernyataan tersebut menjadi menarik karena industri parts racing selama ini tidak hanya hidup dari kebutuhan pembalap profesional. Ada pasar komunitas, penghobi modifikasi, pengguna harian hingga pelaku usaha bengkel dan distributor yang menjadi bagian dari ekosistemnya.
Artinya, bagi industri seperti Koizumi, TRAstart maupun Fizumi, pergantian Menteri Keuangan bukan berarti besok harga produk langsung berubah atau pasar otomatis bergerak. Pengaruhnya lebih mungkin muncul melalui rangkaian kebijakan yang menyentuh biaya produksi, iklim usaha, likuiditas, harga dan akhirnya kemampuan konsumen untuk berbelanja.
Pada akhirnya, pelaku industri parts racing seperti Teguh Rahardjo tampaknya memilih menunggu sambil membaca arah kebijakan. Bukan sekadar melihat siapa yang menjadi Menteri Keuangan, tetapi bagaimana kebijakan tersebut diterjemahkan menjadi iklim usaha yang konkret.
Sebab bagi industri, kebijakan yang bagus bukan hanya yang mampu menjaga angka-angka makro ekonomi, tetapi juga yang membuat pabrik tetap berproduksi, pekerja tetap bekerja dan konsumen tetap memiliki kemampuan untuk membeli.
Dari sinilah efek pergantian Menkeu nantinya akan benar-benar terasa di dunia parts racing.


