
Otoinfo.id – Karakter mesin yang kuat di putaran bawah, tetapi tertahan saat RPM tinggi, menjadi tantangan teknis yang dihadapi Indra Santoso akrab disapa Koh Indra Kabelsetan ketika menangani Kawasaki Ninja milik Doni Tata. Melalui pendekatan Straight Cut Flow (SCF), Indra merancang ulang jalur aliran campuran untuk menghasilkan respons mesin yang lebih cepat, tenaga bawah yang tetap kuat, serta putaran atas yang lebih leluasa.
Pertemuan pertama Doni Tata dan Indra Santoso bermula dari Honda NSR 150 SP milik Doni. Saat itu, mesin terasa brebet dan basah di putaran bawah. Indra yang sedang berada di Yogyakarta kemudian menjelaskan pengaruh sistem kelistrikan pengapian terhadap karakter mesin.
Baca Juga : Dulu Diragukan, Kini Dibuktikan, Perjalanan Koh Indra Membangun Kepercayaan pada Kabelsetan
Untuk membuktikan penjelasannya, Indra melakukan dua pembenahan, yakni porting pada karburator dan penyempurnaan sistem pengapian menggunakan Kabelsetan.


Hasilnya langsung dirasakan Doni. “Two little things, big difference,” menjadi ungkapan Doni yang terus diingat Indra. Dari pengalaman tersebut, hubungan keduanya berlanjut hingga Indra turut membantu pengerjaan wiring motor balap Doni.
Kini, giliran Kawasaki Ninja milik Doni yang mendapatkan sentuhan teknis Indra. Motor tersebut sebenarnya sudah memiliki tenaga bawah yang kuat. Namun, saat RPM meningkat, tenaga seolah tertahan dan mesin tidak mampu terus mengembangkan performanya.
Baca Juga : Dua Kemenangan Beruntun Ziear Racing di ARRC, Peran “Kabel Setan” Jadi Sorotan!
Menurut Indra, salah satu penyebabnya adalah penyempitan pada jalur aliran campuran. Meski kecepatan aliran bisa meningkat di bagian yang menyempit, volume campuran yang mampu melewati jalur tersebut justru berpotensi tidak mencukupi kebutuhan mesin pada putaran tinggi.
Straight Cut Flow, Optimalisasi Jalur Aliran
Secara spesifikasi, Ninja Doni menggunakan piston berdiameter 63 mm dengan stroke yang sudah bertambah 1 mm. Indra mempertahankan konfigurasi mesin tersebut tanpa mengganti komponen maupun mengubah spesifikasi dasar.
Fokus pengerjaan diarahkan pada pembenahan porting yang sebelumnya sudah pernah dilakukan. Pendekatan yang digunakan adalah Straight Cut Flow (SCF), sebuah konsep pembentukan jalur aliran yang dirancang berkesinambungan mulai dari bellmouth karburator hingga transfer block.

Melalui SCF, bagian-bagian yang menjadi hambatan aliran dibuka dan kontur jalurnya dibentuk kembali agar aliran campuran tetap terjaga. Tujuannya bukan sekadar mempercepat aliran, melainkan menyeimbangkan kecepatan dan volume campuran yang masuk ke mesin, terutama ketika RPM terus meningkat.
Pendekatan ini juga ditujukan untuk meminimalkan penurunan pengisian pada rentang putaran tertentu atau yang dikenal sebagai resonance dip.
“Buat saya, mesin dua tak tidak cukup dinilai dari rasio kompresi di kepala silinder. Ruang bawah piston dan jalur transfer juga harus mampu membawa campuran ke ruang bakar, terutama saat RPM terus naik,” jelas Indra.
Bersinergi dengan Kabelsetan
Karakter yang ingin dicapai bukan semata-mata tenaga puncak, melainkan power delivery yang detail dan responsif untuk kebutuhan touring. Mesin diharapkan tetap siap menghasilkan tenaga ketika gas kembali dibuka, termasuk setelah pengendara menahan gas atau berada pada kondisi RPM menggantung.
Dalam konsep ini, SCF bekerja pada optimalisasi jalur aliran campuran, sementara Kabelsetan mendukung respons sistem kelistrikan pengapian. Keduanya menjadi bagian dari pendekatan terpadu untuk mendukung proses pembakaran dan respons mesin.
Konsep tersebut merupakan pengembangan dari pendekatan yang sebelumnya diterapkan Indra pada mesin Ninja R tahun lalu.

Baca Juga : Bima Aditya Sebut Kabel Setan Bukan Sugesti! Dibuktikan dengan Kemenangan Alfi di Kelas Bergengsi
Setelah mencoba hasil pengerjaan, Doni mengaku merasakan karakter mesin yang berbeda dari pengalaman sebelumnya. Tenaga bawah terasa lebih cepat datang dan tetap kuat, sedangkan putaran atas menjadi lebih leluasa dengan tarikan yang terus berlanjut.
Doni juga merasakan perubahan respons setelah gas ditahan. Meski sebelumnya mesin memiliki kecenderungan terasa basah, saat gas kembali dibuka, responsnya terasa lebih bersih dan tenaga segera muncul.
Perpaduan tenaga bawah yang kuat, putaran atas yang lega, serta respons gas yang cepat menjadi karakter utama hasil penerapan Straight Cut Flow
