
Otoinfo – Ada perbedaan antara anak yang sekadar suka mengendarai motor dengan anak yang mulai memahami bagaimana sebuah balapan harus dijalani.
Hanin Dhiya Humaira alias Cinonk sedang berada di fase tersebut. Di usia 10 tahun, pembalap cilik asal Bandung ini mulai memasuki level persaingan yang berbeda. Setelah membangun fondasi dari Pocket Bike, Cinonk kini berhadapan dengan tantangan MotoMini 2026.
Menariknya, ia bukan sekadar ikut balapan. Cinonk sudah mampu naik podium.

Baca Juga : Potensinya Makin Menonjol, Hanin Cinonk Gaspol di Trackday Niti Racing
Dari Pocket Bike, Cinonk Mulai Dibentuk
Perjalanan Cinonk sebenarnya sudah dimulai sejak usia sangat muda. Pada 2023, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi Pocket Bike dan FIM MiniGP Indonesia Series.
Tahun 2024 menjadi salah satu titik penting. Cinonk berhasil meraih dua gelar juara umum LENKA Shaquille Cup Prix, yakni Rookie Under 9 Tahun dan Pro 6-9 Tahun. Ia juga menjadi runner-up FIM MiniGP Indonesia Series.
Namun, ayahnya, Risa Mulyawan, melihat prestasi tersebut bukan sebagai hasil kerja satu orang.“Alhamdulilah atas prestasi yang diraih, buah dari rajin dan semangat latihan Hanin. Ini juga merupakan hasil dari kolaborasi yang pas antara mekanik Omeghan Jaya, pelatih Arie Ocktane, Ferry Ocktane dan rider Hanin,”ungkap ayahnda dalam satu kesempatan obrolan Itu artinya, kecepatan Cinonk dibangun melalui proses.
Mulai Beranjak ke Motor Lebih Besar
Setelah kuat di Pocket Bike, Hanin mulai diperkenalkan dengan motor yang lebih besar. Ohvale menjadi bagian dari proses tersebut. Hanin juga mulai berlatih menggunakan motor seperti Mini Sport dan bebek sebagai persiapan menghadapi kompetisi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Proses itu kemudian mulai terlihat hasilnya pada 2026. Di MotoPrix Boyolali, Cinonk mampu mencatat podium di kelas Mini Sport 160. Hasil tersebut menjadi salah satu tanda bahwa transisinya menuju motor yang lebih besar mulai menunjukkan perkembangan.
Masuk MotoMini, Cinonk Langsung Naik Podium
Tantangan berikutnya datang melalui MotoMini 2026. Pada seri Boyolali lalu, Cinonk tampil sebagai satu-satunya rider perempuan dalam pemberitaan seri tersebut. Menggunakan nomor #19, ia turun di kategori Junior.
Hasilnya menarik. Pada Race 1, Cinonk berhasil finis P3. Namun podium tersebut tidak datang dengan balapan yang sempurna. Ia sempat mengalami insiden dan harus kembali bangkit untuk menyelesaikan balapan.
Menariknya, Cinonk sendiri memahami bahwa lintasan tersebut memiliki tantangan teknis. “Kesulitannya banyak belokannya juga, ini pindah badan harus cepat, banyak teknikal kayak gitu-gitu.”ujar Cinonk dengan senyum yang khas.
Jadi catatan, ia mulai memahami tuntutan body position dan perubahan arah ketika mengendarai motor balap.
Bukan Sekadar Pembalap Perempuan
Label sebagai pembalap perempuan memang membuat Cinonk menarik perhatian. Namun, cerita sebenarnya lebih besar dari itu. Pada 2024, ketika masih membangun reputasi di Pocket Bike, Cinonk pernah menjelaskan pendekatannya ketika balapan:
“Saya sih hanya fokus balapan saja untuk menjaga ritme balap dan selalu fokus pada racing line karena itu yang paling utama. Selebihnya, jika bisa konsisten lap by lap bakal lebih cepat.” Kalimat tersebut mungkin sederhana. Tetapi justru di situlah menariknya.
CINONK tidak hanya sedang belajar memacu motor. Ia sedang belajar membaca balapan. Dari Pocket Bike menuju Ohvale, kemudian motor yang lebih besar, dan kini MotoMini, perjalanan Cinonk perlahan memasuki babak baru.
Podium P3 di MotoMini 2026 bukan garis akhir. Bisa jadi, itu justru tanda bahwa cerita Cinonk baru benar-benar dimulai.

