OTOINFO.ID – Industri startup Indonesia menghadapi situasi menarik sepanjang 2026. Jumlah investor startup Indonesia turun 39%, tetapi nilai pendanaan justru melonjak hingga 111%.
Lho, investornya makin sedikit, kok uang yang masuk malah semakin banyak?
Laporan Tracxn Technologies Limited bertajuk Indonesia Tech – 9M 2026 mengungkap perubahan besar dalam pola investasi perusahaan teknologi nasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor semakin selektif dalam menentukan perusahaan yang layak menerima modal.
Investor Startup Indonesia Turun 39%
Sepanjang Januari hingga September 2026, jumlah investor aktif menyusut dari 44 menjadi 27 investor.
Dari jumlah tersebut, 20 investor berasal dari luar negeri dan tujuh lainnya merupakan investor domestik.
Namun, total pendanaan startup justru meningkat dari US$173 juta menjadi US$365 juta atau sekitar Rp6,63 triliun.
Pendanaan Naik, Jumlah Transaksi Menyusut
Meski nilai investasi meningkat, jumlah putaran pendanaan turun 56%.
Pada sembilan bulan pertama 2025, startup Indonesia mencatat 32 putaran pendanaan. Sementara itu, periode yang sama tahun 2026 hanya menghasilkan 14 putaran.
Artinya, lebih sedikit startup memperoleh pendanaan, tetapi beberapa perusahaan menerima investasi dalam jumlah besar.
Startup Besar Semakin Menarik Investor
Perusahaan teknologi finansial Ajaib menjadi salah satu penerima pendanaan terbesar.
Pada Agustus 2026, Ajaib memperoleh investasi US$270 juta melalui pendanaan Seri C.
Nilai tersebut menyumbang sekitar 74% dari total pendanaan startup Indonesia sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Startup Baru Semakin Sulit Mendapat Modal?
Data Tracxn menunjukkan pendanaan tahap seed turun 92%, dari US$29 juta menjadi US$2 juta.
Jumlah putarannya juga menyusut dari 23 menjadi empat.
Kondisi ini memberi sinyal bahwa perusahaan rintisan tahap awal menghadapi persaingan pendanaan yang semakin ketat.
Investor tampaknya lebih tertarik pada perusahaan yang sudah menunjukkan perkembangan bisnis.
Bukan berarti ide baru kehilangan peluang. Namun, presentasi penuh janji tanpa bukti bisnis semakin sulit menarik perhatian.
Masa Depan Startup Indonesia, Bertahan atau Berubah?
Laporan tersebut juga mencatat tidak ada startup teknologi Indonesia yang melantai di bursa selama Januari–September 2026.
Selain itu, Indonesia belum mencatat tambahan unicorn baru pada periode tersebut.
Situasi ini menuntut pelaku startup untuk memperkuat model bisnis, mengendalikan pengeluaran, dan membangun sumber pendapatan berkelanjutan.
Bagi startup baru, tantangannya bukan sekadar membuat aplikasi canggih.
Mereka harus membuktikan bahwa teknologi mampu menyelesaikan persoalan konsumen sekaligus menghasilkan keuntungan.
Sebab, investor tentu mencari peluang pertumbuhan. Namun, mereka juga membutuhkan kepastian bisnis.
Jangan sampai startup rajin membakar uang, sementara pemasukan masih sebatas rencana di slide presentasi!
