
Otoinfo.id – Menyiapkan pembalap muda untuk bersaing di level kompetitif ternyata bukan hanya soal menyediakan motor kencang. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari membangun fundamental, membentuk mindset, hingga memperhatikan detail-detail kecil yang sering kali terabaikan.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan menarik dari Bos Alvin, sosok di balik Bali Queen Racing Team, yang tengah mengembangkan talenta muda seperti Fiandra Reja dan Firza Angkasa.
Baca Juga : Debut Internasional di Sepang, Fiandra Reja dan Firza Angkasa Bawa Pulang Pengalaman Berharga

Menurut Bos Alvin, salah satu persoalan dalam pembinaan pembalap muda di Indonesia adalah masih adanya proses fundamental yang terlewati. Padahal, aspek-aspek mendasar tersebut berpotensi memberikan dampak besar ketika seorang pembalap mulai memiliki jam terbang tinggi dan menghadapi persaingan yang semakin ketat.
“Banyak pembalap muda berbakat yang gagal karena kehilangan arah. Terutama budaya yang salah, mindset dan fundamental yang keliru,” ungkap Bos Alvin dalam obrolannya.
Baca Juga : Fiandra Tembus 57,5 Detik di Sepang, P7 Race 1, Bos Alvin: Race Pace Sudah Setara Rider Top Malaysia
Ia menilai, perhatian terhadap detail-detail kecil seharusnya menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Sayangnya, hal yang dianggap sepele terkadang justru diabaikan, sehingga pembalap tidak mendapatkan fondasi kemampuan yang cukup kuat untuk berkembang ke tahap berikutnya.
Bukan Hanya Mengejar Motor Kencang
Persoalan lain yang disoroti adalah kecenderungan mengejar hasil kompetitif dengan berbagai cara, termasuk mengandalkan performa motor. Padahal, pembalap yang mampu bersaing di barisan depan belum tentu sepenuhnya menunjukkan kemampuan individu yang sesungguhnya.
Menurut Bos Alvin, performa motor yang mumpuni bisa membantu pembalap tampil kompetitif. Namun, hal tersebut tidak otomatis menjadi bukti bahwa pembalap sudah memiliki fundamental dan keterampilan yang matang.
Baca Juga : Fiandra Reja Makin Pede! Double Podium, Lap Time 59 Detik Jadi Bukti Progres Makin Tajam
“Kadang kita mengandalkan segala cara agar pembalap kita bisa fight. Padahal, pembalap bisa fight di depan belum tentu karena murni skill-nya. Bisa jadi memang terbantu oleh motor yang mumpuni,” jelasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pembinaan jangka panjang. Ketika hasil balapan menjadi tolok ukur utama, pengembangan kemampuan dasar berisiko tidak mendapatkan perhatian yang seimbang.
Padahal, saat memasuki level persaingan lebih tinggi, pembalap dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai karakter motor, kondisi lintasan, dan tekanan kompetisi.
Fundamental Menjadi Bekal untuk Berkembang
Bos Alvin juga membandingkan pendekatan pembinaan yang ia amati di luar negeri. Menurutnya, terdapat lingkungan balap yang lebih menitikberatkan kemampuan pembalap. Ketika seorang pembalap sudah memiliki kecepatan dan keterampilan yang baik, peningkatan performa motor dapat semakin memaksimalkan potensinya.
“Kalau di sana mereka murni pembalap yang kerja. Jadi ketika pembalapnya sudah kencang, ya sudah dikasih motor apa saja tambah kencang. Dan detail-detail kecilnya diperhatikan,” tambahnya.
Baca Juga : Duet Kakak-Adik V-Reinz Bali Queen Mengancam! Fiandra dan Firza Bikin Papan Atas Junior Ohvale Wajib Waspada
Pandangan tersebut menegaskan pentingnya membangun kemampuan pembalap secara bertahap. Kecepatan bukan sekadar hasil dari mesin yang kompetitif, tetapi juga berkaitan dengan teknik, pemahaman karakter motor, serta kemampuan memanfaatkan potensi kendaraan.
Dalam konteks pembinaan talenta muda, perhatian terhadap fundamental dan detail kecil menjadi investasi penting untuk menghadapi jenjang kompetisi berikutnya.
Bagi Bali Queen Racing Team, pengembangan pembalap seperti Fiandra Reja dan Firza Angkasa menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam membentuk talenta muda. Tantangannya bukan hanya menghasilkan pembalap yang mampu bersaing hari ini, tetapi juga membangun kemampuan yang dapat terus berkembang di masa mendatang.

