Otoinfo – CEO Ford dan CEO General Motors (GM) mulai membuka diri untuk kemungkinan bekerja sama dalam megurangi biaya pengembangan mobil listrik.
Pasalnya produsen mobil listrik China semakin agresif, yang membuat terpuruknya industri otomotif di Amerika Serikat karena tekanan yang luar biasa.
CEO GM, Mary Barra, menyatakan keterbukaannya untuk diadakan dengan pihak lain dalam pengembangan teknologi yang tidak berhubungan langsung dengan konsumen.
Hal ini diungkapkan dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Wolfe Research. Langkah serupa juga diambil oleh CEO Ford, Jim Farley, yang menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan produsen lain guna mengurangi biaya baterai mobil listrik.
Dorongan untuk kerja sama ini semakin kuat seiring dengan ekspansi BYD dan produsen mobil listrik China lainnya yang menawarkan harga lebih kompetitif.
BYD bahkan tengah mempertimbangkan pembangunan pabrik perakitan di Meksiko untuk memperluas pasar ke Amerika Serikat.
Farley menekankan urgensi bersaing secara adil dengan Tiongkok, menyatakan bahwa jika produsen mobil Barat tidak mampu melakukannya, pendapatan mereka bisa terancam hingga 20-30 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Sebagai tanggapan, Ford telah membentuk tim khusus untuk merancang mobil listrik yang terjangkau dan kompetitif, serta menyalurkan ulang strategi baterainya.
Barra mengungkapkan bahwa GM berpotensi mencapai titik impas untuk produksi mobil listrik di Amerika Utara pada paruh kedua tahun ini, dengan syarat mencapai tingkat produksi tahunan 200.000 hingga 300.000 unit.
Di China, merek-merek GM akan fokus pada segmen premium mengingat dominasi produsen mobil China di segmen pasar mainstream.
Langkah-langkah ini merupakan upaya strategi dari CEO Ford dan CEO General Motors (GM) untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar mobil listrik global, terutama dari pabrikan China yang semakin agresif. Otoinfo.


