
Otoinfo.id – Hendra Kecil, joki drag bike asal Magelang, Jawa Tengah, kini lebih banyak fokus pada pengembangan mesin balap, baik untuk drag bike maupun road race. Salah satu proyek yang sedang dikerjakannya adalah bebek 200 cc berbasis Yamaha MX King.
Riset tersebut masih terus berjalan. Menariknya, hasil pengujian terakhir menunjukkan mesin sudah menghasilkan 41 HP dengan torsi 23 Nm.
“Masih belajar ini, coba-coba riset. Bebek 200 cc, basisnya MX King,” ujar Hendra Kecil.

Namun angka tersebut belum bisa dijadikan gambaran final performa motor. Saat turun pada Black Drag Bike Sentul akhir pekan lalu, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala utama.
Hujan deras membuat permukaan trek sangat licin sehingga power mesin tidak dapat keluar secara optimal. Motor tersebut saat itu digunakan oleh Wildan Kecil dan Beng-Beng.
“Untuk balap kemarin di Black Drag Bike Sentul, belum bisa sesuai yang diharapkan. Power belum bisa keluar. Terkendala cuaca hujan deras sama trek sangat licin,” jelas Hendra.
41 HP Bukan Satu-Satunya Patokan
Dalam pengembangan motor drag, peak horsepower tidak bisa berdiri sendiri. Karakter torsi, powerband, gearing, traksi ban dan kemampuan rider ikut menentukan seberapa efektif tenaga mesin diterjemahkan menjadi akselerasi.
Menariknya, menurut Hendra, persoalan MX King 200 cc tersebut bukan hanya soal mengejar tenaga lebih besar. Power di bagian bawah justru masih terlalu besar sehingga motor terasa liar.
“Peak power-nya masih kurang geser ke atas sedikit. Jadi motornya masih terlalu liar,” ungkapnya.
Secara teknis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa riset mulai diarahkan pada power delivery. Tenaga yang terlalu agresif pada RPM rendah-menengah dapat membuat ban kehilangan traksi, terutama ketika kondisi aspal licin.
Ketika wheelspin terjadi, sebagian tenaga mesin tidak berubah menjadi gaya dorong yang efektif. Rider pun harus mengurangi bukaan throttle sehingga akselerasi tidak maksimal.
Karena itu, menggeser karakter peak power ke RPM lebih tinggi bisa menjadi salah satu upaya untuk mendapatkan distribusi tenaga yang lebih sesuai.
Menunggu Pembuktian di Trek Kering
Hendra juga menilai catatan waktu pada Black Drag Bike Sentul belum dapat dijadikan patokan karena kondisi lintasan tidak ideal.
“Ini masih penasaran kalau di cuaca dan sirkuit yang aspalnya pas bisa dapat berapa time-nya,” katanya.
Untuk mengetahui potensi sebenarnya, pengujian berikutnya idealnya dilakukan pada trek dengan grip yang lebih baik. Data dyno juga perlu dilengkapi dengan RPM peak power, RPM peak torque, grafik power, rasio gearbox, final gear, ukuran ban dan bobot motor.
Dengan demikian, riset MX King 200 cc ini bukan sekadar mengejar angka horsepower. Tantangan sebenarnya adalah menemukan kombinasi power, powerband dan traksi yang mampu mengubah 41 HP dan 23 Nm menjadi akselerasi maksimal.

