
Otoinfo – Pernyataan Rafael Nitiyudo, owner Niti Racing, soal rencananya mengawal “anak-anak lokal” ke GP Mandalika akhir pekan ini, 9-11 Oktober, sempat membuat penasaran. Siapa mereka?
Apakah pembalap muda berbakat dari Lombok? Atau rider potensial yang akan mendapat kesempatan tampil sebagai wild card dan menambah line-up pembalap Indonesia di kelas Grand Prix?
Baca Juga : Niti Sirkuit dan Masa Depan Pembalap Indonesia (Part 1)

Pertanyaan itu cukup masuk akal. Apalagi publik Indonesia saat ini memiliki Veda Ega Pratama di Moto3 dan Mario Aji di Moto2.
Namun ternyata, dugaan tersebut meleset.
Bukan Rider Wild Card
Rafael Nitiyudo menjelaskan bahwa “anak-anak lokal” yang dimaksud bukan pembalap. Ia justru akan mengajak anak-anak pesantren dari Lombok Timur untuk menyaksikan langsung gelaran GP Mandalika.
“Kalau saya kawal anak-anak lokal aja. Saya biasa ajak anak pesantren Lombok Timur, nonton bareng. Kasihan anak-anak lokal jarang ke sirkuit, jadi saya utamakan mereka,” ungkap Rafael.
Baca Juga : Dari Paddock ARRC ke Harley-Davidson, Ajay Bawa Ilmu Balap ke Bless Motorcycle
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab rasa penasaran yang muncul sebelumnya. Tidak ada rider baru. Tidak ada agenda wild card. Rafael memilih membawa anak-anak lokal untuk merasakan langsung atmosfer MotoGP di sirkuit.
Dari Penonton Bisa Tumbuh Mimpi
Bagi sebagian orang, datang ke sirkuit mungkin merupakan hal biasa. Namun bagi anak-anak lokal Lombok Timur yang jarang mendapatkan kesempatan tersebut, pengalaman melihat MotoGP secara langsung tentu berbeda.
Mereka bisa melihat motor balap dari dekat, merasakan atmosfer sirkuit, sekaligus mengenal dunia motorsport yang selama ini mungkin hanya mereka lihat melalui televisi atau media sosial.
Yang lebih menarik, pengalaman sederhana tersebut bisa menjadi awal munculnya sebuah mimpi. Tidak harus menjadi pembalap. Bisa saja suatu hari mereka tertarik menjadi mekanik, engineer, fotografer, videografer, jurnalis, atau profesi lain di industri motorsport.
Sebab sebuah mimpi terkadang muncul setelah seseorang melihat langsung sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan.
MotoGP Mandalika Bukan Sekadar Balapan
Langkah Rafael Nitiyudo memberikan sudut pandang berbeda menjelang GP Mandalika. Di tengah perhatian yang biasanya tertuju pada rider, motor, teknologi dan hasil balapan, ia justru memilih memperhatikan anak-anak lokal yang mungkin jarang merasakan atmosfer sirkuit.
Kalimat Rafael sederhana. “Kasihan anak-anak lokal jarang ke sirkuit, jadi saya utamakan mereka.”
Mungkin bagi Rafael, mengajak anak-anak pesantren menonton MotoGP adalah hal sederhana. Namun bagi mereka, pengalaman tersebut bisa menjadi kenangan yang panjang.
Dan siapa tahu, dari tribun penonton GP Mandalika nanti, tumbuh mimpi baru tentang dunia motorsport. Hari ini mereka datang sebagai penonton.
Suatu hari nanti, bukan tidak mungkin mereka kembali ke sirkuit sebagai bagian dari dunia balap.

