Otoinfo – Hyundai Ioniq 5, Hyundai Motor Group bersama LG Energy Solution telah menyelesaikan pembangunan pabrik sel baterai dan pack di wilayah Cikarang dan Karawang, Jawa Barat. Rencananya, operasional pabrik ini akan dimulai pada bulan April tahun ini.

Mengoptimalkan Produksi Mobil Listrik
Menurut informasi yang kami terima, pabrik baterai ini akan segera beroperasi pada bulan April. Tidak hanya itu, pada Semester I tahun 2024, beberapa model mobil listrik Hyundai, seperti Ioniq 5, akan menggunakan baterai rakitan lokal.
Hal ini dikonfirmasi oleh Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Fransiscus Soerjopranoto. “Proses ini dipercepat dari rencana awal, yakni semester II tahun ini,” ungkapnya kepada Bisnis pada Rabu (13/3/2024).
Dengan penggunaan baterai lokal, Hyundai optimistis bahwa produksi mobil listrik, terutama Hyundai Ioniq 5, akan meningkat secara signifikan. “Kami yakin kapasitas produksi akan meningkat, memberikan peluang untuk meningkatkan penjualan baik di pasar domestik maupun ekspor,” terang Frans.
Menurunkan Biaya Produksi
Frans juga meyakini bahwa dalam jangka panjang, biaya produksi mobil listrik Hyundai akan turun seiring dengan lokalisasi produksi baterai. “Pada tahap awal produksi, dampak terhadap harga mungkin belum terlalu signifikan.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya produksi, biaya depresiasi akan berkurang,” tegas Frans.
Investasi dalam Ekosistem Produksi Baterai
Hyundai Group telah menginvestasikan sebagian dari ekosistem produksi baterai mobil listrik. Hyundai Motor Co. bersama LG Energy Solutions telah menggelontorkan dana hingga US$3 miliar untuk membangun fasilitas produksi baterai secara lokal.
Fasilitas pertama yang telah dibangun dioperasikan oleh PT HKML Battery dengan total investasi mencapai US$1,1 miliar atau setara dengan Rp15,6 triliun. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi sel baterai mencapai 10 GWh per tahun.
Selain itu, Hyundai juga membangun fasilitas packing baterai di Cikarang, Jawa Barat. PT Hyundai Energy Indonesia bertanggung jawab atas fasilitas ini dengan total investasi sebesar US$60 juta atau sekitar Rp900 miliar.
Total kapasitas produksi pabrik HEI mencapai 21.000 unit Battery System Assembly (BSA) per tahun. Dalam beberapa tahun mendatang, HEI berencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga 50.000 unit BSA.
Frans menilai bahwa ekosistem produksi baterai ini merupakan wujud komitmen investasi dan pengembangan mobil listrik Hyundai di Indonesia. “Dengan komitmen ini, kami berharap adanya konsistensi dalam kebijakan pemerintah terkait industri ini,” tegasnya.
Dengan komitmen dan investasi yang dilakukan, Hyundai siap menggebrak pasar mobil listrik di Indonesia dengan memanfaatkan baterai produksi lokal.
Semoga dengan adanya kerjasama antara pemerintah dan industri, industri mobil listrik Indonesia dapat berkembang pesat dan memberikan dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan. Otoinfo


