Otoinfo.id-Prinsip perhitungannya cukup sederhana. Konsumen perlu mengetahui kapasitas energi baterai, jarak tempuh, serta tarif listrik per kWh yang berlaku di rumah.
Rumus dasarnya:
Biaya listrik per kilometer = (Kapasitas baterai dalam kWh ÷ Jarak tempuh) × Tarif listrik per kWh.
Selanjutnya, hasil biaya per kilometer dikalikan dengan jarak perjalanan harian. Dengan cara ini, pemilik motor bisa mendapatkan gambaran pengeluaran untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Simulasi Biaya Honda EM1 e:
Sebagai contoh, Honda EM1 e: menggunakan baterai lithium-ion dengan tegangan 50,26 volt dan kapasitas 29,4 Ah. Jika kedua angka tersebut dikalikan, kapasitas energinya sekitar 1,48 kWh. Sementara jarak tempuh tersertifikasi mencapai 41,1 km.
Kita gunakan tarif listrik rumah tangga nonsubsidi 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh sebagai contoh perhitungan periode Oktober 2026.
- Energi baterai: sekitar 1,48 kWh.
- Jarak tempuh: 41,1 km.
- Konsumsi energi teoritis: sekitar 0,036 kWh per km.
- Biaya listrik teoritis: sekitar Rp52 per km.
Jika motor digunakan untuk perjalanan 30 km sehari, estimasi biaya energinya sekitar Rp1.560. Dalam 26 hari penggunaan, pengeluaran listriknya berada di kisaran Rp40.500.
Angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan kapasitas energi baterai dan jarak tempuh tersertifikasi, bukan hasil pengukuran langsung dari stopkontak. Konsumsi listrik saat pengisian bisa lebih tinggi karena adanya kehilangan energi selama proses charging.
Jangan Hanya Menghitung Biaya Isi Daya
Biaya listrik memang menjadi salah satu keunggulan yang menarik dari motor listrik. Namun, konsumen sebaiknya tidak berhenti pada hitungan tersebut.
Ada sejumlah komponen yang tetap perlu masuk dalam anggaran penggunaan kendaraan.
1. Biaya Perawatan Berkala
Motor listrik tidak membutuhkan penggantian oli mesin seperti motor bensin. Meski begitu, pemilik tetap perlu memperhatikan kondisi ban, sistem pengereman, suspensi, bearing, serta komponen kelistrikan.
Pemeriksaan berkala juga penting untuk menjaga keamanan dan performa kendaraan.
2. Biaya Penggantian Komponen
Ban, kampas rem, dan beberapa komponen lain tetap mengalami keausan. Usia pakainya bergantung pada jarak perjalanan, kondisi jalan, beban kendaraan, serta kebiasaan pengendara.
Karena itu, biaya perawatan tetap perlu disiapkan meskipun motor tidak menggunakan bahan bakar minyak.
3. Biaya Baterai dan Pengisian
Konsumen juga perlu memahami skema kepemilikan baterai pada model yang dipilih. Perhatikan apakah paket pembelian sudah mencakup baterai dan charger atau menggunakan skema layanan tertentu.
Untuk motor yang menggunakan sistem penukaran baterai, perhitungan biaya perlu mengikuti tarif layanan yang berlaku, bukan semata-mata tarif listrik rumah.
Apakah Motor Listrik Honda Lebih Hemat untuk Harian?
Jawabannya bergantung pada pola penggunaan. Pengendara yang menempuh jarak relatif pendek dan memiliki fasilitas pengisian di rumah berpeluang menikmati biaya energi yang rendah.
Namun, jarak tempuh harian juga harus disesuaikan dengan kemampuan kendaraan. Honda EM1 e:, misalnya, memiliki jarak tempuh tersertifikasi 41,1 km, sedangkan Honda ICON e: mencapai 53 km dan Honda CUV e: mencapai 80,7 km berdasarkan informasi produk Astra Honda Motor. <Cite refs={[“turn779824search3”]}/>
Perbedaan tersebut membuat konsumen perlu mempertimbangkan rute perjalanan, jarak pulang-pergi, serta ketersediaan fasilitas pengisian sebelum menentukan pilihan.
Hitung Kebutuhan, Bukan Sekadar Tergiur Angka Irit
Menghitung biaya penggunaan motor listrik Honda sebenarnya tidak sulit. Kuncinya adalah mengetahui konsumsi energi, tarif listrik, dan jarak perjalanan harian.
Simulasi Honda EM1 e: menunjukkan bahwa biaya energi bisa berada di kisaran ribuan rupiah untuk perjalanan puluhan kilometer. Namun, angka tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pemakaian nyata dan efisiensi pengisian.
Jadi, sebelum memutuskan beralih ke motor listrik, jangan hanya bertanya seberapa murah biaya isi dayanya. Hitung juga kebutuhan perjalanan, perawatan, baterai, dan fasilitas pengisian. Dengan begitu, keputusan membeli motor listrik bisa lebih rasional, bukan sekadar mengikuti tren kendaraan elektrifikasi.
