Otoinfo.id – TAVULLIA Alessio Salucci, Direktur Pertamina Enduro VR46 Racing Team, baru-baru ini menyatakan bahwa rivalitas antara Valentino Rossi dan Marc Marquez tidaklah sebesar yang dibayangkan banyak orang. Menurut Uccio, sapaan akrab Salucci, rivalitas yang sebenarnya dan paling bermakna bagi The Doctor adalah dengan Massimiliano ‘Max’ Biaggi.
Valentino Rossi, yang telah pensiun sejak akhir musim MotoGP 2021, tetap menjadi figur yang sangat dihormati di dunia balap motor, terutama di kelas 500cc. Meski telah gantung helm, cerita-cerita tentang kehebatan dan rivalitasnya masih sering dibicarakan dan dikenang oleh para penggemar dan pelaku balap motor.
Selama 25 tahun berkarier, Rossi memiliki banyak rival atau pesaing dekat. Beberapa nama besar yang pernah menjadi musuhnya di lintasan adalah Loris Capirossi, Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Jorge Lorenzo, dan Marc Marquez. Setiap rivalitas tersebut memiliki cerita dan intensitasnya masing-masing.
Namun, menurut Uccio yang merupakan sahabat dekat Rossi, rivalitas dengan Marquez tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan Biaggi. Ia mengatakan bahwa persaingan paling ‘panas’ dan autentik bagi Rossi adalah dengan Biaggi.
“Itu (dengan Marquez) bahkan bukan sebuah persaingan. Persaingan yang paling indah, paling sehat, dan paling autentik adalah dengan (Max) Biaggi,” ujar Salucci dalam wawancaranya dengan Motosan pada Minggu (23/6/2024).
Pria asal Italia tersebut mengingat kembali bagaimana Biaggi dianggap sebagai ‘Dewa’ di Italia pada masanya. Meski tidak berhasil memenangkan gelar MotoGP, Biaggi mampu menunjukkan performa terbaiknya sejak debutnya di dunia balap motor.
“Dia (Max Biaggi) adalah dewa di Italia, dia selalu tampil di televisi, dia telah memenangkan tiga gelar, dia memilih untuk meninggalkan Aprilia 250cc pada tahun 1997 untuk bergabung dengan Honda dengan kapasitas lebih kecil dan tetap menang,” jelas Salucci.
Pada tahun 1998, Biaggi memulai debutnya di GP 500 dan langsung memenangkan balapan debutnya di Suzuka, mengungguli Mick Doohan yang saat itu merupakan pembalap unggulan. Prestasi ini membuat persaingan antara Rossi dan Biaggi semakin menarik untuk diikuti.
“Sampai saat itu terjadi persaingan yang mendalam, antar kategori yang berbeda, namun saya tahu cepat atau lambat bentrokan itu akan terjadi. Tahun 2001 itu bagus, tulus, dengan banyak lelucon, tapi dengan dasar saling menghormati,” tambahnya.
Uccio juga mengungkapkan bahwa rivalitas dengan Biaggi bukan hanya sekedar persaingan di lintasan, tetapi juga persaingan yang melibatkan berbagai aspek kehidupan keduanya. Keduanya sering terlibat dalam adu argumen di media dan saling sindir, namun di balik semua itu, terdapat rasa saling menghormati yang tinggi.
Artikel ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia balap motor, rivalitas sejati bukan hanya tentang siapa yang tercepat di lintasan, tetapi juga tentang bagaimana para pembalap saling menghormati dan menunjukkan keaslian dalam kompetisi mereka. Rivalitas antara Valentino Rossi dan Max Biaggi adalah contoh sempurna dari persaingan yang intens namun tetap penuh dengan rasa hormat dan kejujuran.


