
Otoinfo.id – Dunia balap motor bukan hanya tentang kecepatan di lintasan. Di balik seorang pembalap, ada proses panjang yang membutuhkan keberanian, disiplin, latihan, serta mental kuat sejak usia dini.
Hal tersebut mulai terlihat dari sosok VaRo Mario, pembalap muda yang kini masih duduk di kelas 3 SD dan berusia 9 tahun. Ketertarikannya terhadap dunia balap mulai tumbuh ketika usianya sekitar 6,5 tahun, setelah diperkenalkan dengan dunia balap oleh sang papi.
Bagi VaRo, balap bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ia bahkan mengaku saat ini cita-citanya hanya ingin menjadi pembalap.

Awal VaRo Mario Mengenal Dunia Balap
Motor pertama yang digunakan VaRo untuk berlatih adalah Pocket LENKA 50cc 2-tak. Pada usia 6,5 tahun, ia mulai merasakan langsung pengalaman mengendarai motor di sirkuit.
Menariknya, VaRo mengaku sejak pertama masuk lintasan justru merasa senang dan menikmati pengalaman tersebut. Rasa takut baru muncul ketika performa motor mulai meningkat dan kecepatannya semakin tinggi.
Pelatih pertama VaRo adalah Ari Octane, yang memberikan latihan sekitar empat kali pertemuan ketika VaRo masih menggunakan Pocket Bike LENKA.
Materi dasar yang diberikan saat itu cukup fundamental, yakni bagaimana menjaga keseimbangan motor, layaknya ketika belajar mengendarai sepeda.
Dari Hobi Menjadi Cita-Cita
Seiring waktu, aktivitas balap mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Salah satu momen penting terjadi ketika muncul rencana untuk membawa VaRo mengikuti sekolah balap di Italia.
Keinginan tersebut membuat perspektif VaRo terhadap balap berubah. Latihan yang dilakukan setiap hari juga semakin memperkuat keinginannya untuk menjadi pembalap profesional.
Bahkan, VaRo merasa balap sudah bukan sekadar hobi ketika waktu yang dihabiskan untuk latihan semakin banyak dan terarah.
Disiplin Latihan Jadi Modal Utama
Untuk pembalap muda, kemampuan mengendarai motor tentu bukan satu-satunya hal yang penting. VaRo juga menjalani latihan fisik secara rutin.
Dalam satu pekan, latihan motor dilakukan sekitar dua kali. Sementara latihan fisik dilakukan setiap hari, kecuali ketika jadwal latihan motor berlangsung.
Latihan yang dijalani cukup beragam, mulai dari push-up, sit-up, squat, pull-up, senam, boxing hingga angkat beban.
Menariknya, VaRo mengaku latihan motor menjadi aktivitas yang paling disukai. Sebaliknya, latihan fisik justru menjadi bagian yang paling tidak ia sukai. Meski begitu, latihan fisik tetap dijalani secara konsisten untuk menjaga stamina.
Target Bukan Sekadar Latihan
Dalam latihan motor, VaRo memiliki target untuk mencatat waktu yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Perkembangan kemampuan juga tidak hanya dilihat dari catatan waktu. Ia juga merasakan peningkatan stamina ketika berada di atas motor.
Sementara ketika melakukan kesalahan di lintasan, evaluasi dilakukan bersama pelatih untuk mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
Bagi VaRo dan orang-orang di sekitarnya, jatuh atau mengalami kegagalan juga menjadi bagian dari proses belajar seorang pembalap.
Sekolah Tetap Jalan, Balap Terus Dikejar
Meski serius mengejar karier balap, pendidikan tetap berjalan. Setiap hari VaRo menjalani aktivitas sekolah seperti biasa.
Sepulang sekolah, ia melanjutkan latihan fisik hingga malam. Sementara latihan motor biasanya dilakukan pada Sabtu dan Minggu. Izin sekolah baru dilakukan ketika jadwal balapan bertepatan dengan hari sekolah.
Menariknya, VaRo menganggap belajar racing lebih sulit dibandingkan belajar di sekolah. Alasannya sederhana, kesalahan dalam latihan balap bisa berisiko menyebabkan cedera.
Aktivitas VaRo sebagai pembalap juga sudah diketahui teman-teman dan lingkungan sekolahnya. Respons yang diterima pun cukup positif dan penuh antusias.
Menimba Pengalaman Balap hingga Italia
Salah satu bagian paling menarik dalam perjalanan VaRo adalah kesempatan menjalani latihan di Italia.
Keputusan tersebut berawal dari pesan sang papi yang ingin VaRo memahami seperti apa proses seorang calon pembalap profesional. Italia dipilih karena dikenal sebagai salah satu tempat penting dalam perkembangan pembalap dunia.
Keberangkatan VaRo ke Italia bukan sekadar untuk mendapatkan pengalaman atau terlihat keren. Tujuan utamanya adalah melihat langsung bagaimana lingkungan, latihan dan kehidupan para pembalap di sana.
Merasakan Atmosfer Negeri Para Juara
Menurut VaRo, terdapat banyak perbedaan antara latihan di Indonesia dan Italia. Beberapa di antaranya berkaitan dengan disiplin, durasi latihan, latihan fisik, spesifikasi motor, pelatih hingga suasana lingkungan.
Pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang sangat berharga karena VaRo bisa merasakan langsung atmosfer latihan di lingkungan para pembalap yang telah lebih dahulu berkompetisi.
Saat itu, VaRo bahkan masih berusia sekitar 7 tahun dan menjadi salah satu rider paling muda. Sebagian rider lain berusia di atas 11 tahun dan sudah memiliki pengalaman di kejuaraan Eropa maupun dunia.
Meski sempat merasa minder, VaRo justru mendapatkan sambutan baik dari para rider senior. Karena menjadi salah satu rider termuda sekaligus berasal dari Asia, ia bahkan mendapat perhatian dari pembalap lain di sana.
Tiga Pelatih dengan Karakter Berbeda
Selama berada di Italia, VaRo mendapatkan pengalaman dari tiga pelatih dengan latar belakang berbeda.
Pelatih utama merupakan warga Italia yang disebut VaRo sangat baik dan tidak pernah marah. Kendala utamanya adalah komunikasi karena sang pelatih tidak bisa berbahasa Inggris.
Pelatih kedua berasal dari Rumania dan merupakan mantan pembalap Moto2 yang kemudian berkompetisi di balap motor listrik dunia. Karakternya jauh lebih tegas. VaRo mengaku pernah mendapat teguran keras ketika tidak mampu menjalankan instruksi saat latihan.
Sementara pelatih ketiga merupakan pelatih fisik asal Jerman.
Perbedaan karakter tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi VaRo dalam memahami bagaimana seorang pembalap harus mengikuti program latihan dan instruksi pelatih.
Bertemu Rider Muda yang Menginspirasi
Di Italia, VaRo juga memiliki sosok yang berkesan, yakni Daniel Purtoti, yang memiliki panggilan Pedrosino.
Ketika itu, Daniel berusia sekitar 10 tahun dan telah menjadi juara nasional Italia di balap Ohvale. Pada tahun berikutnya, Daniel bahkan berhasil menjadi juara dunia Ohvale di Spanyol.
Pertemuan dengan rider muda seperti Daniel menjadi pengalaman penting bagi VaRo untuk melihat secara langsung bagaimana perjalanan pembalap seusianya yang telah lebih dahulu mencapai prestasi.
Bukan Hanya Skill, Mental Bertanding Juga Ditempa
Perjalanan VaRo masih sangat panjang. Salah satu tantangan yang saat ini dirasakan adalah mental bertanding.
Jam terbang yang masih minim membuat pengalaman menghadapi tekanan kompetisi menjadi bagian yang harus terus dibangun. Karena itu, latihan bukan hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan motor, tetapi juga membentuk fisik dan mental.
Sepulang dari Italia, perubahan paling terasa menurut VaRo justru berada pada aspek fisik. Ia semakin memahami pentingnya menjaga kondisi tubuh untuk mendukung aktivitas di atas motor.
VaRo Mario dan Mimpi Menjadi Pembalap Profesional
Pada usia 9 tahun, perjalanan VaRo Mario memang masih berada di tahap awal. Namun, rutinitas latihan, pengalaman mengendarai motor sejak usia 6,5 tahun hingga kesempatan merasakan atmosfer balap di Italia menjadi modal penting untuk perjalanan berikutnya.
Yang menarik, ketika ditanya mengenai cita-cita selain menjadi pembalap, VaRo justru menjawab bahwa saat ini ia hanya ingin menjadi pembalap.
Kalimat sederhana tersebut menunjukkan seberapa besar keinginannya mengejar dunia racing.
Perjalanan menuju level profesional tentu masih panjang. Masih banyak aspek yang harus dipelajari, mulai dari teknik, fisik, mental, racing IQ, pengalaman kompetisi hingga kemampuan membaca situasi di lintasan.
Namun satu hal sudah terlihat jelas: VaRo Mario sedang menikmati proses untuk mengejar mimpinya sebagai pembalap sejak usia dini.

