
Otoinfo.id – Moto3, Moto2, dan MotoGP idealnya adalah jalur penjenjangan bagi pembalap di segmen balap motor prototipe Grand Prix. Pembalap dengan talenta hebat di kelas entry level seharusnya dapat melanjutkan kecemerlangannya di kelas intermediate dan akhirnya di kelas primer, seperti yang telah dilakukan oleh Valentino Rossi dan Marc Marquez. Namun, selain mereka berdua atau mungkin Pedro Acosta nanti, idealisme ini sulit diperoleh. Terlebih lagi sejak format Moto3 dan Moto2 menggantikan kelas GP125 dan GP250. Pertanyaannya, apakah ada kesenjangan yang tidak kontinu di Moto3 dan Moto2 saat ini?
Luca Boscoscuro, pemilik tim tempat Fermin Aldeguer membalap, pernah membahas fenomena ini dalam sebuah wawancara dengan Sky. “Lompatan dari Moto3 ke Moto2 adalah lompatan besar, Anda harus sangat berhati-hati. Pembalap yang kuat di kategori pertama belum tentu juga kuat di kategori lebih tinggi. Lihatlah Dalla Porta, juara dunia, lihat juara dunia Masia, lihat Guevara. Mari kita kesampingkan Acosta yang menang di musim keduanya, namun langsung menjadi sangat kuat. Seseorang seperti dia jelas memiliki sesuatu yang sangat istimewa. Di sisi lain, dia menjadi juara dunia dua kali dalam 3 tahun…”
Namun, apakah ada penjelasan teknis mengenai fenomena ini? Mantan Crew Chief Danny Kent di Moto3 dan Moto2, yang juga pernah menjadi kru dari pembalap sekelas Cal Crutchlow di WSS dan Stefan Bradl di Grand Prix, Peter Bom, memberikan penjelasan dalam sebuah siniar terbaru bersama Mat Oxley.

“Untuk menjawabnya, saya katakan bahwa mereka (pembalap yang tak melanjutkan kesuksesan Moto3 ke Moto2) tidak memiliki ‘paket’ yang komplit. Untuk menjadi pembalap top khususnya di MotoGP, Anda harus memiliki talenta dengan skala 10 dari 10. Moto3 adalah kelas yang sangat menarik. Mereka adalah motor prototipe yang sangat kaku (stiff) di mana Anda tidak harus terlalu banyak berpikir dan memahami. Pada dasarnya Anda hanya harus memiliki keberanian dan talenta mentah (raw talent) dalam mengendarai motor. Jadi, Anda memasuki kejuaraan Moto3 dengan brilian, namun masih cukup kosong kepalanya.
“Sesegera ketika kamu lompat ke kelas Moto2, ini adalah perubahan yang sangat besar. Lebih besar dibandingkan perubahan dari Moto2 ke MotoGP. Ketika naik ke Moto2, seketika kamu akan mendapati selalu ada power yang lebih besar untuk dikendalikan. Dan Anda akan memperoleh ban besar dari Pirelli.
“Jika di Moto3 Anda melihat ke kiri maka motor akan bergerak ke kiri. Di Moto2 ketika Anda melihat ke kiri, Anda harus menggerakan tubuh Anda, bermain dengan bukaan throttle, maka mungkin Anda akan bisa bergerak ke kanan. Jadi, ketika pindah dari Moto3 ke Moto2, Anda harus mempelajari balap semuanya dari awal lagi.
“Talenta untuk beradaptasi ke motor baru dengan cepat dan memahami apa yang dibutuhkan untuk membuat motor itu bisa bergerak cepat di trek sangat penting. Hal itu tidak langsung terlihat di Moto3, namun akan langsung terlihat ketika berada di kelas Moto2. Semua pembalap yang menarik dalam 10-15 tahun terakhir akan cepat mempelajari Moto2. Pembalap yang bahkan menjuarai Moto2 setelah melakukannya selama 5 tahun tidak akan membuat impresi yang bagus di MotoGP.”
Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa perbedaan utama antara Moto3 dan Moto2 bukan hanya terletak pada teknis motor, tetapi juga pada kemampuan pembalap untuk beradaptasi dengan cepat dan menguasai berbagai aspek balapan yang lebih kompleks di kelas yang lebih tinggi.

