
Otoinfo.id – Perjalanan Javier Akhtam Khairullah atau yang akrab disapa Raja Javier di dunia balap belum sepenuhnya berjalan mulus. Memasuki tahun pertamanya di DRS (Doni Racing School), pembalap muda ini harus melewati masa pemulihan cedera, beradaptasi dengan persaingan yang ketat, hingga menghadapi tantangan fisik dan teknik di lintasan.
Benny Rajasakti, sang ayah, mengungkapkan bahwa Raja Javier yang tercatat sebagai siswa di SD ASSHODRIYAH ISLAMIC SCHOOL Bekasi (Kelas 6) sebenarnya sudah dijadwalkan mengikuti seri pertama. Namun, insiden kecelakaan saat menjalani track day (Mandalika) sebelum balapan membuatnya harus menepi selama kurang lebih dua bulan untuk menjalani pemulihan.
Baca Juga : Pembalap Bertalenta Raja Javier Kembali ke MotoPrix! Misi Penting Tambah Mental dan Fisik di Seri Boyolali!

Akibatnya, Raja Javier baru bisa turun pada putaran kedua. Tanpa menjalani latihan setelah pulih dari cedera, ia langsung menghadapi para pesaing yang sebagian besar sudah memiliki pengalaman dua hingga tiga tahun di kompetisi tersebut.
Meski begitu, debutnya cukup memberikan gambaran mengenai potensi yang dimiliki. Dari total 34 peserta, Raja Javier berhasil menunjukkan kemampuan bersaing, meskipun masih harus mengejar ketertinggalan pengalaman dari para rivalnya.
Kecepatan Mulai Terlihat, Fisik Masih Menjadi Tantangan
Memasuki putaran berikutnya, perkembangan Raja Javier mulai terlihat dari catatan waktu. Benny menyebut anaknya sempat mencatatkan best time di kisaran 2 menit 5 detik, bahkan mampu mencatat waktu yang lebih baik dibandingkan salah satu pesaingnya.
Namun, kecepatan tersebut belum sepenuhnya konsisten sepanjang balapan. Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi fisik yang masih perlu ditingkatkan. Menurut Benny, mulai lap keenam hingga ketujuh, daya tahan Raja Javier mulai menurun.
Selain fisik, pengalaman membaca situasi balapan juga menjadi pekerjaan rumah. Raja Javier masih harus membiasakan diri menghadapi rombongan pembalap di depannya, terutama ketika berada dalam persaingan dengan pembalap yang sudah lebih lama mengenal karakter lintasan.
Pada hari pertama salah satu putaran, ia sempat bergerak dari posisi keenam ke posisi ke-11. Sementara pada hari berikutnya, ia memulai balapan dari posisi kelima, tetapi harus puas menyelesaikan lomba di posisi ke-14.
Bagi Benny, hasil tersebut tetap menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Ia mengaku puas dengan perkembangan yang ditunjukkan anaknya, terutama mengingat ini merupakan musim pertamanya di kompetisi tersebut.
Target Musim Depan, Mulai Membidik Podium
Benny tidak mematok target podium secara terburu-buru pada musim perdana. Ia menyadari bahwa Raja Javier baru mengikuti tiga putaran, sementara sejumlah pesaingnya sudah memiliki pengalaman hingga beberapa musim.
Perbedaan pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun target berikutnya. Benny berharap putranya bisa memanfaatkan sisa waktu untuk meningkatkan kebugaran, memperkuat penguasaan lintasan, serta membangun konsistensi saat balapan.
“Alhamdulillah, saya sebagai orang tua puas banget dengan progresnya,” ungkap Benny dalam wawancara.
Ia berharap dengan kesungguhan dan proses latihan yang lebih terarah, Raja Javier bisa mulai bersaing untuk meraih podium pada musim depan.
Perjalanan Raja Javier menjadi gambaran bahwa membangun karier sebagai pembalap muda tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan. Pemulihan cedera, kesiapan fisik, pengalaman bertanding, dan kemampuan beradaptasi dengan persaingan menjadi bagian penting dari proses menuju prestasi.

