Otoinfo.id – Dua tahun berturut-turut menjadi juara Asia di kelas Underbone 150 (UB150) Asia Road Racing Championship (ARRC) tentu bukan sebuah pencapaian yang datang secara kebetulan.

Husni Zainul Fuadzy atau yang lebih dikenal dengan nama Alfi Husni, kembali menunjukkan konsistensinya di pentas balap Asia. Bersama tim Ziear LFNHP969 Adelin MCR RBT34, rider asal Bandung, Jawa Barat tersebut mampu tampil kompetitif di atas Yamaha MX King yang diracik oleh mekanik senior Bima Aditya.
Bahkan pada musim 2026 ini, Alfi Husni sudah memastikan gelar juara UB150 meski kompetisi masih menyisakan satu seri.
Jika melihat ketatnya persaingan UB150 di ARRC, pencapaian tersebut jelas bukan perkara sederhana. Setiap detail pada motor memiliki peran penting. Performa mesin harus konsisten, respons throttle harus presisi, akselerasi harus optimal, sementara daya tahan pacuan juga tidak boleh dikompromikan.
Di balik kesuksesan tersebut, ada satu nama yang menarik untuk disorot: Indra Santoso alias Koh Indra.
Bukan sebagai pembalap. Bukan pula sebagai mekanik yang berdiri di paddock saat balapan.
Namun sebagai sosok yang membawa hasil riset sebuah komponen bernama Kabelsetan hingga akhirnya dipercaya untuk menjadi bagian dari MX King pacuan Alfi Husni.
Bukan Sekadar Menawarkan Produk
Mendapat kepercayaan dari tim balap profesional bukan perkara mudah.
Apalagi ketika komponen yang ditawarkan berkaitan dengan sistem kelistrikan dan berpotensi memengaruhi karakter kerja mesin. Dalam balap level Asia, tidak ada ruang untuk sekadar mencoba tanpa perhitungan.
Satu komponen mengalami masalah, efeknya bisa berantai.
Motor kehilangan performa, respons mesin berubah atau bahkan mengalami gangguan ketika berada dalam kondisi balap. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya produk yang dipertaruhkan, tetapi juga nama mekanik, tim dan pembalap.
Di sinilah perjalanan Koh Indra menjadi menarik.
Ia harus terlebih dahulu meyakinkan Bima Aditya bahwa Kabelsetan bukan sekadar produk dengan klaim performa, tetapi komponen yang sudah melalui proses riset dan layak diuji pada pacuan kompetisi.
Kepercayaan tersebut tidak datang dalam satu malam.
Ada proses panjang yang harus dilewati.
Bima Aditya Menjadi Salah Satu Kunci
Dalam dunia balap, mekanik adalah salah satu pihak yang paling kritis terhadap perubahan pada motor.
Bima Aditya tentu tidak akan begitu saja memasang sebuah komponen hanya karena memiliki klaim dapat meningkatkan performa.
Setiap perubahan pada MX King harus memiliki alasan teknis.
Karena itu, ketika Kabelsetan akhirnya diaplikasikan pada pacuan Alfi Husni, keputusan tersebut menjadi sebuah pertaruhan tersendiri.
Terlebih lagi, MX King tersebut bukan motor biasa.
Pacuan tersebut dipersiapkan untuk menghadapi pertarungan UB150 ARRC yang terkenal ketat. Motor harus mampu memberikan performa optimal sejak sesi latihan, kualifikasi hingga race.
Dalam kondisi seperti itu, komponen sekecil apa pun tetap harus bekerja sesuai fungsinya.
Dan menariknya, penggunaan Kabelsetan pada MX King Alfi Husni bukan baru dilakukan pada musim 2026.
Komponen tersebut sudah diuji dan diaplikasikan sejak musim 2025.
Artinya, ada proses evaluasi dan pembuktian yang berlangsung lebih dari satu musim.
Secara Teori, Bagaimana Kabelsetan Bekerja?
Secara teori dan berdasarkan konsep yang menjadi dasar risetnya, Kabelsetan ditujukan untuk membuat proses pengapian dan pembakaran bekerja lebih efektif.
Efektivitas sistem tersebut kemudian diyakini dapat membantu respons mesin, terutama pada aspek akselerasi dan pencapaian kecepatan puncak (top speed).
Namun dalam dunia balap, teori saja tentu tidak cukup.
Motor balap bukan laboratorium.
Semua klaim harus berhadapan langsung dengan stopwatch, data lap time, respons pembalap dan kondisi trek.
Karena itu, menarik ketika sebuah komponen hasil riset kemudian digunakan dalam pacuan yang mampu mempertahankan performanya selama kompetisi ARRC.
Apalagi UB150 memiliki karakter pertarungan yang sangat rapat. Selisih performa yang kecil saja bisa menentukan posisi pembalap di lintasan.
Di sinilah pembuktian sesungguhnya terjadi.
Dua Tahun, Bukan Sekadar Sekali Podium
Musim 2025 menjadi awal penting ketika Alfi Husni berhasil meraih gelar juara Asia UB150.
Kemudian pada 2026, konsistensi kembali ditunjukkan.
Alfi tidak hanya mengejar satu atau dua hasil podium. Konsistensi dalam mengumpulkan poin menjadi faktor penting hingga akhirnya gelar juara berhasil diamankan sebelum musim benar-benar berakhir.
Bagi sebuah tim balap, konsistensi seperti ini justru menjadi indikator penting.
Sebab motor balap tidak cukup hanya cepat satu kali.
Motor harus cepat secara berulang.
Harus mampu bekerja dalam berbagai kondisi.
Dan yang paling penting, harus dapat dipercaya.
Karena itu, ketika komponen Kabelsetan kembali menjadi bagian dari pacuan Alfi Husni pada musim berikutnya, ada satu hal yang menjadi semakin menarik: kepercayaan tersebut ternyata bukan berhenti pada tahap pengujian.
Kepercayaan berkembang menjadi penggunaan dalam kompetisi.
Koh Indra: Pertaruhan Harga Diri di Balik Sebuah Riset
Bagi Koh Indra, keberhasilan tersebut tentu memberikan kebanggaan tersendiri.
Namun di balik kebanggaan itu terdapat tekanan yang tidak kecil.
Menjadi seorang periset sekaligus pengembang produk berarti siap mempertanggungjawabkan apa yang dihasilkan.
Ketika produknya digunakan pada motor balap sekelas pacuan ARRC, risikonya bukan hanya soal berhasil atau gagal secara teknis.
Ada harga diri yang ikut dipertaruhkan.
Jika Kabelsetan mengalami masalah dan justru mengganggu performa motor, konsekuensinya bisa fatal terhadap kepercayaan yang sudah dibangun.
Karena itulah perjuangan Koh Indra sebenarnya bukan sekadar menjual atau mengenalkan Kabelsetan.
Ia harus membuktikan terlebih dahulu bahwa produknya memang layak mendapatkan tempat di sebuah motor balap yang setiap detailnya diperhitungkan.
Dan untuk mendapatkan kepercayaan dari Bima Aditya serta Alfi Husni, tentu dibutuhkan lebih dari sekadar kata-kata.
Dibutuhkan pembuktian.
Ketika Riset Bertemu dengan Balap
Cerita Kabelsetan pada MX King Alfi Husni pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai sebuah komponen.
Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah hasil riset harus melewati proses panjang sebelum mendapatkan kepercayaan.
Koh Indra membawa hasil pemikirannya.
Bima Aditya membawa pengalaman dan keahliannya meracik mesin.
Sementara Alfi Husni membawa kemampuan pembalap untuk menerjemahkan performa motor menjadi hasil di lintasan.
Ketiganya berada pada ruang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: menciptakan pacuan yang kompetitif dan konsisten.
Dan ketika hasil akhirnya berupa dua gelar juara Asia UB150 secara beruntun pada 2025 dan 2026, tentu menjadi sebuah catatan yang membanggakan bagi semua pihak yang terlibat.
Namun tetap harus digarisbawahi, keberhasilan seorang pembalap di level ARRC tidak lahir dari satu komponen saja.
Performa motor merupakan hasil kombinasi banyak faktor, mulai dari mesin, ECU, sistem bahan bakar, pengapian, kelistrikan, chassis, ban, setup suspensi, strategi tim hingga kemampuan pembalap.
Kabelsetan adalah salah satu bagian dari puzzle besar tersebut.
Dan justru di situlah nilai perjuangan Koh Indra menjadi menarik.
Ia tidak sekadar ingin mengatakan produknya bagus.
Ia harus mendapatkan kesempatan untuk membuktikannya.
Dua Gelar Asia, Sebuah Validasi yang Belum Berhenti
Dua tahun berturut-turut menjadi juara Asia memberikan satu gambaran bahwa paket Alfi Husni bersama Ziear LFNHP969 Adelin MCR RBT34 memiliki tingkat konsistensi yang sangat baik.
Bagi Koh Indra, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan karena hasil risetnya dipercaya menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Tetapi satu hal yang pasti, dunia balap selalu bergerak.
Apa yang berhasil hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
Artinya, riset tidak boleh berhenti.
Pengembangan harus terus berjalan.
Dan kepercayaan yang sudah didapat harus terus dijaga melalui pembuktian di lintasan.
Sebab pada akhirnya, balap tidak mengenal klaim. Balap hanya mengenal hasil.
Dan dari sinilah perjalanan Kabelsetan bersama MX King Alfi Husni menjadi cerita menarik: tentang sebuah produk yang harus terlebih dahulu mendapatkan kepercayaan, kemudian membuktikan dirinya di medan pertarungan paling keras—lintasan balap Asia.


